Teratai Raksasa di Gugusan Pegunungan Menoreh

puntuk setumbu
Gunung Merapi dan Merbabu membentang di ufuk timur. Cahaya merah di langit menandakan Sang Fajar akan segera bangun. (Dok.Pri.)

ardiannugroho.com | Dulu sekali saya pernah mendengar sebuah cerita tentang sebuah teratai raksasa di tengah danau. Kala itu saya bertanya-tanya sebesar apa teratai raksasa tersebut. Di danau apa teratai itu berada. Dalam beberapa waktu pertanyaan itu berada di dalam kepala saya. Hingga pada suatu subuh, sebelum Sang Fajar bangun dari tidurnya, saya berdiri menatap teratai raksasa yang berlindung pada bayangan Gunung Merapi.

Sebuah rencana dadakan memang lebih sering berjalan daripada yang sudah direncanakan. Semuanya berawal dari obrolan ringan tentang tempat mana yang menarik untuk disinggahi. Lalu, pukul setengah empat pagi saya dan beberapa teman sudah menembus dinginnya jalanan Kopeng menuju Puntuk Setumbu.

Berbekal petunjuk dari peta digital, kami akhirnya sampai di lokasi pada pukul empat pagi. Suasana masih sepi. Hanya beberapa mobil yang terparkir di sana. Karena waktu yang masih panjang hingga matahari terbit, kami memutuskan untuk bersantai sebentar di sebuah warung sambil memesan minuman hangat.

puntuk setumbu
Para pengunjung berjejalan mengabadikan momen menjelang matahari terbit. (Dok.Pri.)

Pukul setengah lima pagi kami memutuskan untuk naik setelah menebus tiket seharga lima belas ribu perorang. Jalan setapak yang sudah dilapis semen membuat perjalanan lebih mudah. Cuaca juga cukup bersahabat. Setelah sepuluh menit berjalan, akhirnya kami sampai di puncak bukit Puntuk Setumbu.

Malam perlahan memudar. Seakan tahu waktunya telah usai. Di ufuk timur, semburat putih mulai memancar. Secara berantara Raja Pagi menyambut semesta. Bayangan Gunung Merapi dan Merbabu yang bersebelahan semakin tegas. Seiring cahaya memancar, bertambah pula orang-orang yang datang. Mirip seperti laron-laron yang mengerumini lampu.

Orang-orang mulai sibuk mengambil gambar, termasuk saya. Dengan memincingkan mata sambil memutar fokus pada lensa, saya mencari-cari teratai yang menjadi tujuan saya berada di sini. Kabut yang cukup tebal sedikit mengaburkan penglihatan saya. Perlu beberapa menit hingga akhirnya kabut menipis dan memperlihatkan teratai raksasa yang saya cari.

Teratai raksasa tersebut tak berwarna merah muda atau putih pada umumnya. Tak pula berwarna ungu. Tapi berwarna abu-abu. Terbungkus kabut tipis yang tenang bagai air danau yang dalam. Terapung di tengah-tengah sederetan Gunung Merbabu, Merapi, Sindoro, Sumbing, Tidar serta pegunungan Manoreh yang memagarinya.

puntuk setumbu
Sang Raja Pagi mengintip dari balik punggung Gunung Merapi. (Dok.Pri.)

Candi Borobudur

Teratai raksasa itu dengan nama Candi Borobudur, candi terbesar di muka bumi dari abad ke 9. Candi ini diperkirakan dibangun pada masa Dinasti Cailendra (Caila=Gunung, Indra=Raja). Beberapa ahli seperti Poerbatjakara dan Stutterheim berpendapat bahwa nama Borobudur berasal dari kata Boro (vihara) dan Budur (atas).

Sebelum ditemukan dan dipugar kembali, Candi Borobudur sempat tertidur selama ratusan tahun. Baru setelah Thomas Stamford Raffles membangunkannya, Candi Borobudur mulai dikenal dunia. Hingga sekarang pun pesonanya tak pernah luntur.

candi borobudur
Siluet Candi Borobudur berselimut kabut tipis memberi kesan seperti bungai teratai di tengah danau. (Dok.Pri.)

Candi Borobudur mewakili tiga tingkatan utama dalam kehidupan sesuai ajaran Buddha: Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Kamadhatu adalah dunia hasrat, di mana manusia masih mengikuti hawa nafsu. Rupadhatu merupakan tingkat di mana manusia mulai meninggalkan hasrat, tapi masih terikat pada nama dan rupa. Sedangkan Arupadhatu adalah tingkatan tertinggi manusia ketika mereka tak lagi terikat oleh dunia.

Selayaknya sebuah candi, pada dindingnya terdapat 2670 relief yang berbeda. Relief tersebut dibaca searah dengan jarumnya. Di dalamnya tersimpan cerita tentang kehidupan Sang Buddha yang diambil dari kitab Jataka, Lalitawistara, Awadana, dan beberapa kitab lain.

Candi Borobudur merupakan candi terakhir untuk belajar tentang rangkaian esensi kehidupan hingga mencapai nirwana. Sebelumnya, kita diharapkan untuk mengunjungi Candi Mendut. Pada reliefnya, kita bisa belajar tentang kotbah pertama Sang Buddha. Setelahnya kita bisa mengunjungi Candi Pawon sebelum akhirnya sampai di Candi Borobudur.

pegunungan menoreh
Pepohonan dari hutan di pegunungan Manoreh terlihat berlapis-lapis ketika semburat mentari mengenainya. (Dok.Pri.)

Candi Borobodur adalah salah satu dari sekian banyaknya peninggalan sejarah yang selalu membuat saya kagum. Ketaatan orang-orang terdahulu akan ajarannya membuat mereka menghasilkan karya yang bahkan waktu pun tak ingin merampasnya. Ditambah lagi misteri tentang cara mereka mendirikan bangunan maha megah ini serta lokasi yang diambil. Saya semakin terkesima.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *