Tato – Rajah Tubuh yang Tak Lagi Garang

Tato
Gambar sketsa Abbey yang akan diubah menjadi tato di tangan Pringgo. (Dok.Pri.)

ardiannugroho.com | Suara dinamo berdesing memenuhi ruangan. Sebuah jarum merajam kulit ari di tangan memaksa tinta merah masuk ke dalam kulit. Pringgo (33) meringis sembari menahan perih. Darah segar mengucur bercampur dengan tinta merah di sepanjang garis di mana jarum merajam.

Dengan teliti, Hudha menindih sketsa yang sudah dibuat sebelumnya dengan rajah tubuh permanen. Dan pada rajah tubuh itu lah tersimpan ingatan yang kelak akan menjadi kenangan di masa depan.

Hudha menyeka campuran darah dan tinta lalu kembali merajam kulit. Selesai dengan satu gambar, ia berpindah pada gambar selanjutnya. Pringgo masih saja meringis, tapi menikmati ketika jarum menusuk kulit. Saya pun meringis sambil membayangkan rasa perihnya, lalu tersenyum ketika melihat gambar tato tersebut.

Tato
Pringgo menahan perih ketika Hudha mulai merajam kulitnya dengan alat tato. (Dok.Pri.)

Tato biasanya identik dengan gambar yang garang seperti tengkorak, simbol atau binatang buas. Bisa juga berupa tulisan nama atau kutipan. Tapi tato kali ini berbeda. Gambar-gambar tersebut adalah karya Abbey, anak Pringgo. “Ini gambar anakku,” ucapnya.

Budaya Tato

Kata tato sendiri disinyalir berasal dari kata tatau dalam bahasa Tahiti. Budaya menorehkan rajah di tubuh ini sudah berkembang sangat lama dan telah berkembang ke seluruh penjuru dunia.

Menurut Ady Rosa (48), dosen Seni Rupa dari Negeri Padang, Sumatra Barat, tradisi tato tertua di dunia dimiliki oleh orang Mentawai. Bahkan lebih tua dari tato Mesir yang ditemukan pada tubuh mumi dari abad ke 20SM.

Setiap daerah memaknai tato sebagai identitas jati diri. Sebuah tato bisa digunakan untuk membedakan status atau profesi seseorang. Tato juga bisa sebagai media untuk merekam cerita yang tak ingin mereka lupakan. Mirip seperti tato milik Pringgo.

Tato
Hudha dengan hati-hati mengubah sketsa yang ia buat sebelumnya menjadi tato permanen. (Dok.Pri.)

Proses penorehan tato pada masa itu tak lebih sakit daripada sekarang. Seorang dukun tato menggunakan jarum yang dikaitkan pada setangkai kayu. Tangkai kayu tersebut lalu dipukul pelan-pelan dengan kayu guna memasukkan warna pada kulit. Pewarna yang digunakan menggunakan bahan alami seperti daun atau arang.

Stigma Tato

Tato selalu diidentikkan dengan para pelaku kejahatan. Stigma negatif ini berkembang bukan tanpa alasan. Banyak dari para pelaku kriminal menghiasi tubuhnya dengan tato. Setidaknya itu lah gambaran yang kerap dipertontonkan dalam berita kriminal di televisi.

Di sana, para penjahat yang tertangkap dijajarkan sambil bertelanjang dada memperlihatkan tato garang di tubuhnya. Lambat laun stigma negatif itu menempel dan menyebar di masyarakat. Tato tak ubahnya sebuah tindakan buruk dan hanya pelaku kriminal yang memilkinya. Ketika masih kecil, saya pun mengamininya.

Rajah Tubuh
Monster udang, salah satu gambar Abbey yang akan dijadikan tato di tangan Pringgo. (Dok.Pri.)

Beranjak dewasa, pikiran itu mulai memudar. Kenyataan bahwa banyak dari teman saya yang memiliki tato turut mengubah pandangan saya. Sekarang, saya melihat tato lebih pada seni. Di dalamnya terdapat sebuah cerita yang akan dikenang selamanya, seperti milik Pringgo. Setidaknya sampai tato itu dihapus.

Satu jam sudah berlalu sejak Hudha menorehkan tato di tangan dan lengan Pringgo. Gambar Mr. Prinkles, seekor monster udang, mobil, pelangi, dan sebuah keluarga kecil lengkap dengan matahari menambah koleksi tato di tubuhnya.

tato
Gambaran Abbey untuk sosok seorang ayah. (Dok. Pri.)

Tato-tato tersebut lebih terkesan lucu daripada garang. Hal ini semakin menegaskan tato sebagai seni dan media penyimpan ingatan. Ditambah lagi tato tidak hanya didominasi kaum Adam. Banyak juga kaum Hawa yang memiliki tato dengan gambar lucu. Jadi, ada cerita apa di balik rajah di tubuhmu?

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *