Sensasi Naik Kereta Api Tua Ambarawa

Orang-orang menunggu untuk naik ke kereta api wisata di Stasiun Ambawara.

Suara mesin berat berderit. Perhatian semua orang di stasiun Ambarawa seketika tersita. Kepala mereka serentak menoleh ke kiri, tempat asal suara. Sebuah lokomotif D30124 berwarna kuning dengan tiga gerbong kayu mengekor di belakangnya bergerak perlahan. Kereta yang ditunggu akhirnya datang.

Orang-orang bergegas menuju pinggir rel. Seorang petugas stasiun dengan sigap memberikan arahan agar semua berdiri di batas aman. Baru ketika kereta sudah benar-benar berhenti, kami diperbolehkan naik ke dalam gerbong. Para penumpang langsung menyerbu naik ke dalam gerbong. Mengisi kursi-kursi dari kayu jati. Berebut untuk duduk di samping jendela.

 

Lokomotif Diesel

Lokomotif D301 yang kami gunakan adalah lokomotif buatan pabrik Fried Krupp, Jerman. Lokomotif ini masih menggunakan tenaga diesel hidraulis yang dapat menghasilkan kecepatan maksimum 45 km/jam. Dulunya kereta ini digunakan untuk mengangkut barang mau pun penumpang.

Gerbong kereta api wisata dengan panjang 9 meter ini dibuat menggunakan kayu jati. Dioperasikan pertama kali tahun 1907 dan direnovasi kembali pada tahun 1973.

Di usia senjanya kini, kereta ini hanya digunakan pada setiap akhir pekan. Beralih menjadi kereta wisata. Tugasnya membawa penumpang dari Stasiun Ambarawa ke Stasiun Tuntang lalu kembali lagi.

Rute Ambarawa – Tuntang dibangun pada tahun 1867. Namun Stasiun Ambarawa sendiri baru secara resmi dibuka tahun 1873. Melihat antusiasme orang-orang dan bisnis yang cukup menguntunkan. Kemudian tahun 1901 dibuatlah rute hingga Yogyakarta.

Perkembangan jalur transportasi darat lainnya seperti bus ternyata membawa dampak yang cukup signifikan. Terbukti orang-orang mulai meninggalkan kereta api dan beralih menggunakan bus untuk bepergian ke Yogyakarta. Akibatnya jalur ini sempat berhenti beroperasi pada tahun 1980an. Baru pada tahun 2002 rute Ambarawa-Tuntang diaktifkan kembali untuk tujuan wisata.

Padi hijau membentang sejauh pandang dengan Gunung Telomoyo, Merbabu dan Kelir sebagai latar belakang.

Decit roda besi yang bergesek dengan rel terdengar lagi. Senyum dan mimik gembira tergambar di wajah para penumpang. Terlebih anak-anak. Kereta api akhirnya mulai bergerak.

“Aku baru kali ini lho, Pak, naik kereta api diesel,” seru teman saya dengan mata berbinar dan senyum merekah. Sama sepertinya, ini pun kali pertama saya menaiki kereta api yang sudah mulai beroperasi sejak 1962.

Hamparan padi hijau seperti permadani menjadi pembuka. Diikuti Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu dan Gunung Kelir yang berdiri gagah di ujung horison. Biru langit terpantul di permukaan air Rawa Pening. Semua kepala melongok ke jendela tanpa kaca di kanan dan kiri gerbong tak mau melewatkan keindahan yang tersaji.

Anak-anak melongok ke luar jendela melihat pemandangan yang spektakular.

Selama perjalanan menuju Stasiun Tuntang, mata kami dimanjakan dengan pesona alam Rawa Pening dan sekitarnya. Terlebih lagi kereta berjalan cukup pelan, 4 km/jam sehingga kami benar-benar bisa menikmati panorama Rawa Pening.

Tak banyak kereta api di Indonesia yang melewati danau atau rawa seperti ini. Bahkan mungkin kereta wisata Ambarawa ini menjadi satu-satunya yang masih aktif. Kereta api di Sumatra Barat dengan rute Solok-Sawahlunto-Batutabal yang melewati Danau Singkarak pun saat ini sedang mati suri. Hal ini bisa dimengerti karena biaya pengoprasiannya yang cukup mahal. Apalagi untuk kereta bertenaga uap.

Kami tiba di Stasiun Tuntang setengah jam kemudian. Para penumpang diperbolehkan untuk turun dan melihat-lihat area Stasiun Tuntang selama sepuluh menit. Beberapa foto lama beserta informasinya dipajang. Para penumpang bisa mengorek informasi tentang stasiun ini sementara masinis bersendagurau di sela istirahatnya dengan rekannya.

Masinis beserta petugas stasiun bersendagurau di sela istirahatnya ketika sampai di Stasiun Tuntang.

Masinis kembali naik ke kereta. Petugas stasiun memberi instruksi agar penumpang kembali ke dalam gerbong. Kereta bergerak. Rel berdecit akibat gesekan dengan roda besi. Gerbong bergoyang pelan.

Sensasi menaiki kereta api tua memang terasa berbeda. Persis seperti kutipan yang tertera di dekat pintu gerbong, “It takes only one hour, but the memory of your Railway Mountain Tour will last forever.” Dan kami pun kembali ke Stasiun Ambarawa.

2 Comments

  1. mas,,,
    boleh tahu jadwal nya?
    dan harga tiketnya?

    apakah ini yang harus serombongan dengan biaya juta an itu yah?
    terimakasih dan salam

    1. Kereta Api wisata ini cuma ada di akhir pekan saja. Setiap harinya ada tiga kali pemberangkatan, pukul 10, 12 dan 2 siang. Boleh perorangan kok. Nanti beli tiketnya di dalam museum Ambarawa seharga 50 ribu rupiah perorangnya.

      Kalau yang harga sewanya jutaan itu untuk kereta api uap. Kalau tidak salah terakhir saya dengar harganya sekitar 12 juta untuk satu kali trip.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *