Syukur Penghibur Jalanan Sungai Martapura

penghibur jalanan
Berpose di depan kamera. (Foto: dok.pri.)

Sebuah kincir api memutar di atas kepala. Sama sekali tak tampak raut muka ketakutan sedikitpun. Malahan, matanya tajam menatap setiap penonton yang penasaran dengan aksinya. Penonton terkesima dan mulai mengambil gawai untuk mendokumentasikan aksi Sang Penghibur Jalanan.

Melihat antusias penonton, ia kembali mengambil dua bilah besi dan menyalakan api pada sumbu di ujungnya. Dengan lincah ia memutar kedua bilah besi dengan nyala api tersebut. Sesekali ia sapukan apinya di kulitnya yang legam mengilat. Seolah memberitahu bahwa ia kebal api.

Para penonton semakin takjub. Mereka berdecak kagum dengan aksi mirip debus yang ada di pinggir sisi Sungai Martapura ini. Tak cukup dengan atraksi kincir api, ia mengambil sebuah botol berisi minyak dan meminumnya. Kemudian didekatkannya salah satu sumbu api yang menyala ke mulutnya dan menyemburkan minyak yang diminumnya tadi.

Sebuah kincir api diletakkan di atas kepala sebagai atraksi api. (Foto: dok.pri.)

Api membulat dan membesar di udara. Ia kini seperti seekor naga api yang bernafaskan api. Penonton terhenyak dan mundur seketika. Beberapa bahkan lari untuk menghindari api. Mereka berseru dan bertepuk tangan. Akhirnya ditutupnya atraksi api dengan cara yang tak kalah unik. Ia memasukan sumbu api tersebut ke dalam mulutnya. Begitu keluar, api sudah padam.

Tinggal api yang ada di kincir di atas kepalanya yang kini masih menyala. Ia meraihnya dan kemudian mendekatkannya ke hidungnya. Jarinya menutup satu lubang hidung dan dengan hembusan kuat, ia memadamkan api di kincir satu persatu. Ia tersenyum meringis memamerkan giginya yang tak lagi lengkap. Raut seram kini berganti konyol.

Pertunjukkan belum selesai. Ia mengambil sebilah pedang dan tameng. Sebuah ukiran khas Suku Dayak menghiasi tameng yang ia kenakan. Tanpa perlu bertanya, saya sudah bisa menduga bahwa ia adalah seorang Dayak. Ditambah lagi dengan berbagai aksesoris yang menggantung di lehernya.

Dengan cekatan ia memainkan pedang dan tameng di tangannya. Sesekali ia berpose serius dan konyol. Para penonton dengan sigap lalu memoto pose-pose kocaknya, termasuk saya. Salah satu aksi yang menurut saya cukup membuat ngilu adalah ketika ia memasukkan ujung pedang ke dalam lubang hidungnya.

Di akhir pertunjukkan apinya, ia memadamkan api dengan hembusan angin dari hidungnya. (Foto:dok.pri)

Pertunjukan yang mendebarkan itu akhirnya usai. Para penonton bertepuk tangan lalu mendekat untuk meminta berfoto bersama. Setelah itu ia mengedarkan sebuah tas kecil meminta sumbangan seikhlasnya dari para penonton.

Sudah lebih dari dua puluh tahun ia menjadi seorang penghibur jalanan. Usianya yang renta tak membuatnya takut melakukan berbagai aksi menegangkan yang baru saja ia lakukan. Malah, ia terkesan sangat menikmati. Setiap kali saya tanya pernahkah ia terluka sewaktu melakukan aksinya, jawabnya hanya alhamdulillah.

Berpose dengan salah satu penonton. (Foto: dok.pri)

Jawaban yang sama saya dapatkan untuk sebagian besar pertanyaan yang saya utarakan kepadanya. Alih-alih mengatakan luka, duka, atau bayaran yang ia dapatkan, ia berusaha untuk tetap bersyukur pada Tuhan dengan selalu berkata alhamdulillah.

Tak lupa, ia selalu memanjatkan doa setiap kali melakukan atraksi. Itulah kenapa saya melihat ia komat-kamit sebelum acara dimulai. “Kita tak boleh melupakan Tuhan,” tuturnya. “Karena apa pun yang kita lakukan tak lepas dari kuasa Tuhan.” tambahnya menutup perbincangan kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *