Debar Canyoning Air Terjun Mancur

canyoing
Teman-teman membuat tiga jangkar pada pohon terdekat sebelum mengaitkan tali karmantel untuk menuruni air terjun. (Foto: dok.pri.)

Suara gemuruh air terjun menyambut kedatangan kami berenam. Hujan yang mengguyur sedari siang ikut menjadi penyebab tingginya debit air terjun Mancur yang berada di lereng Gunung Telomoyo. Kami mengepak semua perlengkapan rappelling yang diperlukan dan membawanya menuju air terjun Mancur. Di sinilah kali pertama saya akan mencoba petualangan ekstrem baru, canyoning.

Canyoning adalah sebuah kegiatan yang identik dengan penelusuran sungai, air terjun, ngarai dan lembah. Awalnya, canyoning hanya digunakan untuk aktivitas penelitian seperti hidrologi, klimatologi, ekologi dan berbagai penelitian yang berhubungan dengan alam.

Berbagai teknik disiplin alam bebas dipadupadankan dalam kegiatan canyoning ini. Teknik-teknik tersebut antara lain pemanjatan, turun tebing, berenang dan lompat tebing. Namun, belakangan aktivitas yang berkembang sejak akhir 1800an di Eropa dan Amerika ini menjadi salah satu olahraga ekstrem yang banyak diminati.

Di tengah guyuran hujan, kami menuju puncak air terjun dengan berjalan memutar. Sesampainya di atas, mas Dhanang, Ucil dan Mas Kukuh langsung mengeluarkan peralatan rappelling yang telah disiapkan. Hal pertama yang mereka lakukan adalah membuat jangkar (anchor) menggunakan tali webbing yang diikatkan ke tiga pohon terdekat.

tali karmantel
Pak Gun menggulung tali karmantel sebelum digunakan sembari membetulkan tali agar tidak kusut. (Foto: dok.pri.)

Ada tiga macam jangkar yang biasa digunakan dalam rappelling dan webbing: jangkar emas, jangkar perak dan jangkar perunggu. Jangkar emas adalah jangkar utama dalam rappelling dan canyoning. Sedangkan jangkar perak dan jangkar perunggu berfungsi sebagai jangkar cadangan apabila jangkar utama lepas atau rusak. Jadi pemanjat tetap dalam posisi aman sekalipun salah satu jangkar rusak.

Setelah memastikan bahwa tiga jangkar sudah cukup kuat, kini Mas Dhanang memasang tali karmantel statis yang akan digunakan untuk menuruni air terjun. Kami menggunakan sebuah tali karmantel statis berukuran diameter 10 mm dengan panjang sekitar 50 meter. Tali karmantel ini dapat menahan beban dengan berat sampai 2,2 ton.

Sebelum mulai melakukan canyoning, pendaki harus mengenakan sebuah seat harness. Seat harness adalah sebuah tali pengaman yang dipasang di pinggang dan paha yang bertugas untuk menopang tubuh. Pendaki akan mengaitkan seat harnes dengan tali karmantel statis menggunakan carabiner dan descender berupa figure of eight.

Tak lupa, pendaki juga harus mengenakan helm dan sepatu yang mempunyai daya cengkram yang kuat. Alat-alat tersebut merupakan alat dasar yang wajib dipakai oleh pendaki untuk mengurangi cedera yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Canyoning sendiri sebenarnya merupakan olahraga yang sangat aman selama pendaki mengikuti arahan yang diberikan.

panjat tebing
Sebagai leader, Mas Dhanang bertugas untuk mengecek jalur yang akan dilalui. (Foto: dok.pri.)

Sebagai pemimpin, mas Dhanang bertugas untuk mencoba jalur yang akan dilewati. Ia harus memastikan bahwa jalur sangat aman sebelum digunakan oleh pendaki lainnya. Ia menjejakkan kakinya bergantian sambil mengecek setiap langkah ketika menuruni air terjun Mancur. Sedangkan yang lainnya memperhatikan dengan seksama sembari mengawasi tali jangkar.

Tak sampai sepuluh menit, mas Dhanang sudah berhasil menuruni air terjun setinggi kurang lebih 30 meter. Padahal debit air yang tinggi membuat aliran air menjadi lebih deras. Belum lagi kondisi batuan tebing yang licin. Nyatanya kepiawaian yang didukung oleh pengalaman tak membuatnya kesulitan melakukan canyoning di bawah hujan lebat.

Akhirnya tibalah giliran saya untuk mencoba canyoning. Saya mengenakan seat harness dengan bantuan teman-teman. Mereka memastikan seat harness tersebut melingkar erat pada pinggang dan paha saya. Selanjutnya tali karmantel dikaitkan menggunakan carabiner dan descender berbentuk angka delapan.

Sebelum menuruni tebing, mas Kukuh bersama Pak Gun memberikan arahan bagaimana saya harus memegang tali karmantel. Satu tangan diletakkan dibelakang pinggang yang berfungsi sebagai rem dan mengulur tali ketika turun. Sedangkan tangan satunya memegang tali yang ada di depan. “Jangan pernah lepaskan tangan yang dibelakang,” ujar Pak Gun. “Selama tangan yang dibelakang tidak lepas, kamu aman, Mas.”

Debar Canyoing Air Terjun Mancur
Mas Dhanang membuka jalan untuk memastikan keamanan jalur canyoing. (Foto: dok.pri.)

Rasa was-was membuat saya berdebar-debar karena ini adalah kali pertama saya melakukan canyoning. Sempat terlintas di pikiran bagaimana jika saya terpeleset dan jatuh. Walaupun mas Danang mengatakan bahwa canyoning aman dan ada Ucil di bawah yang akan mengawasi dan mengatur tali ketika saya turun, tetap saja bayangan terpeleset dan jatuh sempat terlintas.

Saya mencoba mengumpulkan keberanian dan percaya bahwa canyoning ini aman. Dengan percaya diri saya mulai mencoba untuk melangkahkan kaki menuruni air terjun Mancur. Setapak demi setapak saya berjalan mundur menuruni tebing. Pak Gun mengarahkan saya untuk berjalan dengan sudut sekitar 45 derajat dan mendekatkan tubuh ke arah tebing. Posisi tubuh seperti itu lebih aman dan mencegah tubuh terjungkal ke belakang.

Saya sudah seperempat jalan dan memasuki bagian tebing yang vertikal. Saya sedikit kebingungan untuk mencari pijakan kaki. Sempat saya mencoba mengingat kembali bagaimana mas Dhanang melalui bagian tebing vertikal ini, tapi saya tak memenukan petunjuk apapun. Saya sempat mengutuki kebodohan sendiri yang tidak memerhatikan dengan baik.

Dari bawah air terjun saya mendengar Ucil berteriak memanggil. Saya menengok ke bawah mencari asal suara. Dia memberikan kode menggunakan tangannya sebagai petunjuk apa yang harus saya lakukan di keadaan seperti itu. Saya mencoba mencerna arti dari kode tangan yang ia berikan. Ternyata ia meminta saya untuk membalikkan badan dan menempelkan punggung ke dinding tebing lalu meluncur ke bawah seperti bermain seluncuran.

canyoning
Perlahan-lahan saya menuruni dinding tebing air terjun Mancur. (Foto: Erfix)

Sekilas saya tak percaya dan mempertanyakan keselamatan saya sendiri jika saya berseluncur di atas dinding tebing. Namun Ucil tetap bersikeras meminta saya untuk melakukannya sambil memberikan kode tangan berulang-ulang. Akhirnya saya pun memutuskan untuk menurutinya.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana cara saya untuk membalikkan badan dan memunggungi dinding tebing di tengah derasnya air yang mengalir. Tak pelak saya pun mencoba untuk memelantingkan badan dengan tangan kiri tetap memegang erat tali karmantel di bagian belakang tubuh.

Tubuh saya berhasil memunggungi dinding tebing. Namun usaha itu harus ditebus dengan lecet pada punggung tangan karena terkena batu tebing saat prosesnya. Warna merah darah pun langsung mengucur darinya. Beruntung dingin hujan dan adrenalin canyoning membuat saya tak merasakan perih pada tangan. Dan saya pun melanjutkan untuk meluncur ke bawah. Rasanya seperti bermain perosotan, tapi bedanya saya perosotan di dinding tebing.

Sesampainya di bawah, saya melihat ke puncak air terjun sambil berteriak kegirangan. Saya benar-benar tak mengira baru saya melakukan canyoning dengan menuruni air terjun Mancur setinggi 30 meter. Ini adalah sebuah pengalaman yang menantang dan tentu saja langsung membuat saya ingin kembali mencoba.

canyoning
Kami memasak air untuk membuat kopi dan teh hangat serta mie instan untuk menghangatkan tubuh yang menggigil terkena air. (Foto: Dok.pri.)

Namun tampaknya adrenalin saya tak bertahan lama. Rasa dingin dari air terjun dan guyuran hujan membuat saya kembali menggigil kedinginan. Akhirnya saya pun naik menyusul ke atas untuk ikut menikmati segelas kopi dan mie instan sebagai penghangat di tengah dingin hujan dan untuk mencegah hipotermia (kehilangan panas tubuh).

Video oleh Fixmeproject:

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *