Melukis Sudut Dinding Jalanan Salatiga

Layar kaca ponsel pintar saya berkedip diikuti dengan sebuah pesan masuk dari Raditya Hudha, “Aku meh gambar. Hehehe”. Seketika saya menyambar ponsel dan membalas pesan tersebut. Ini adalah sebuah pesan yang sudah lama saya nantikan. Sudah lama saya ingin memotret ketika ia sedang menggambar graffiti. Sekarang HOED_hood, nama alias Hudha, bersama komunitas graffiti Salatiga akan menggambar graffiti di salah satu dinding sudut jalan Salatiga.

graffiti salatiga
Hudha mulai mengerjakan graffiti di sebuah dinding di sudut kota Salatiga. Kegiatannya menarik perhatian orang-orang yang lewat. (Foto: dok.pri)

Tak perlu waktu lama, saya pun mengemasi kamera lalu menuju lokasi yang di minta, Jalan Monginsidi Salatiga. Di jalan ini membentang tembok yang kerap berisi berbagai graffiti dan mural. Bagi para Bomber, sebutan bagi para graffiti artis, tembok ini tak ubahnya kanvas panjang bagi kreativitas mereka.

Selang sepuluh menit saya tiba di lokasi yang diminta. Seseorang sudah terlihat menorehkan cat berwarna ungu pada dinding sebagai dasar. Beberapa orang lainnya dengan serius menebalkan warna pada gambar yang sudah hampir selesai. Saya bertemu HOED_hood dan menanyakan gambar apa yang akan ia torehkan kali ini. Ia menyodorkan ponsel pintarnya dan tampak gambar seekor gorila pada layarnya.

HOED_hood mengambil sebuah masker yang akan digunakan selama ia menorehkan gambar pada dinding. Masker tersebut berfungsi sebagai pelindung agar ia tidak menghirup partikel cat semprot yang terbawa oleh angin. Di tangannya ia membawa sebuah kotak berisi sembilan cat semprot dengan warna yang ia butuhkan untuk menggambar gorila.

Graffiti salatiga
HOED_hood menggambar graffiti gorila setinggi kurang lebih empat meter. (Foto: dok.pri.)

Warna putih menjadi warna pertama yang ditorehkan di dinding sebagai dasar gambar. Ia mulai dari menggambar mata diikuti garis wajah sisi kanan. Sebuah tangga ia gunakan untuk membantunya meraih bagian atas dinding. HOED_hood berencana menggambar muka gorila dengan mengambil seluruh tinggi dinding, sekitar empat meter. Semua itu akan ia kerjakan seorang diri.

Tingkatan Graffiti

Graffiti mempunyai empat tingkatan – Tag, Throw Up, Piece dan Wildstyle – yang menunjukkan kemampuan bomber dalam menggambar graffiti dari segi style. Tag merupakan sebutan bagi gambar yang hanya menggunakan satu kaleng cat semprot saja. Biasanya gambar yang dihasilkan hanya berupa tulisan atau angka. Setingkat di atasnya, Throw Up sudah mulai menggunakan perpaduan dua warna saat menggambar. Namun, graffiti yang ditorehkan masih berupa huruf dan angka.

Karakter gorila yang akan digambar HOED_hood dikenal dengan istilah Piece. Ini merupakan tingkatan ketiga setelah Tag dan Throw Up. Pada tingkatan ini, graffiti yang ditorehkan sudah lebih beragam dibandingkan dengan dua tingkatan sebelumnya. Gambarnya pun tidak hanya terbatas pada huruf dan angka, tapi juga merambah karakter. Warna yang dituangkan pun lebih kaya dan beragam.

Graffiti Salatiga
Graffiti karya seorang bomber yang dikenal dengan nama Choco. (Foto: dok.pri.)

Sedangkan tingkatan paling atas dalam graffiti adalah Wildstyle. Pada tingkatan ini, gambar yang dihasilkan terkadang tidak begitu jelas bentuknya. Entah berbentuk huruf, angka, karakter, atau kombinasi ketiganya, namun tetap terlihat artistik.

Selain empat tingkatan di atas, graffiti juga mempunyai tingkatan lain seperti Toy, King dan Legend. Berbeda dengan empat tingkatan sebelumnya yang fokus pada gaya graffiti, tingkatan ini lebih fokus pada popularitas mereka.

Vandalisme

Pada awalnya, graffiti kerap dipandang sebagai sebuah aksi vandalisme karena sifatnya yang tidak berijin dan cenderung merusak. Para bomber menorehkan tulisan, nama atau tag pada fasilitas umum sebagai bentuk eksistensi diri. Kerasnya aksi penolakan masyarakat sekitar serta pandangan miring tentang graffiti membuat bomber hanya bisa bergerak waktu petang. Semuanya dilakukan dengan cepat dan sembunyi-sembunyi. Tak jarang bomber harus bermain kucing-kucingan dengan para petugas keamanan atas aksinya.

HOED_hood bersama dengan bomber lain yang tergabung dalam komunitas graffiti bernama Sinner membuat sebuah film pendek berjudul Won’t Stop. Fim pendek tersebut bercerita tentang usaha mereka menggambar graffiti yang masih dianggap sebagai vandalisme. Film pendek tersebut memberikan gambaran situasi yang kerap dihadapi oleh para bomber saat berusaha menorehkan karya seni mereka di dinding-dinding tak bertuan.

Selayaknya ulat yang membutuhkan proses untuk berubah menjadi kupu-kupu, perkembangan graffiti pun akhirnya menampakkan keindahannya. Ia kini tak lagi dipandang sebagai ulat yang kerap merusak daun, namun sebagai kupu-kupu dengan sayap yang menawan. Dari awalnya yang hanya berupa coretan biasa, seni graffiti mengalami banyak perkembangan menjadi lebih beragam dan berwarna. Para bomber mulai membuat tulisan dengan bentuk yang menarik dan gaya mereka sendiri.

Graffiti Salatiga
Dua orang dari komunitas graffiti Salatiga sedang mengerjakan graffiti versi mereka. Perpaduan gambar senjata api dengan tulisan hello di atasnya. (Foto: dok.pri.)

Graffiti tak hanya terbatas pada menggambar karakter, huruf dan angka menggunakan cat semprot. Seiring meningkatnya kreativitas bomber, graffiti melahirkan aliran-aliran seni lukis jalanan lainnya seperti mural (biasa menggunakan cat tembok), wheat-paste (poster tempel), stickers dan rol up.

Akhirnya lambat laun khalayak umum pun bisa menerima graffiti sebagai sebuah seni jalanan. Bomber tidak lagi harus sembunyi-sembunyi saat menyemprotkan cat di dinding-dinding sudut kota. Di Salatiga sendiri mereka sudah mendapat beberapa tempat untuk memajang karyanya, salah satunya di Jalan Monginsidi. Di sini mereka bisa dengan bebas mengekspresikan gambar dalam tulisan dan karakter tanpa harus takut ditangkap petugas keamanan.

Satu jam berlalu, graffiti gorila yang dibuatnya kini sudah mulai lebih kentara. Perpaduan Cyan, Rune Energy dan Ungu terlihat serasi mendominasi gambar gorila. Warna hitam mempertegas guratan wajah gorila setinggi hampir empat meter. Gambar gorila tersebut tampak nyata dengan sorot mata tajamnya. Tak ayal setiap orang yang lewat menolehkan kepalanya.

Graffiti
HOED_hood menuliskan tag pada sebelah kanan bawah gambar untuk menandai bahwa graffiti tersebut adalah karyanya. (Foto: dok.pri.)

Graffiti gorila memasuki tahap akhir. Hampir semua isi dari sembilan kaleng cat semprot dari sponsor menempel permanen pada dinding membentuk sebuah karya seni. HOED_hood membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya. Terik mentari yang menyengat membuatnya sedikit kerepotan ketika menggambar. Beberapa kali ia harus berteduh untuk mendinginkan suhu badan sambil melihat bagian yang kurang dari gambar.

HOED_hood kembali mendekat dan mulai menyemprotkan warna pada bagian yang dirasa kurang. Tulisan “Hood” ditorehkannya pada sisi bawah kanan gambar sebagai penanda bahwa graffiti tersebut adalah karyanya. Sedangkan tulisan “Sinner Crew” pada sisi kiri bawah gambar yang menandakan bahwa dia adalah bagian dari Sinner. Sebuah senyum puas pun mengembang di wajahnya.

Graffiti gorila tersebut mungkin memang tak selamanya ada di sana. Kelak graffiti lain akan menimpanya. Tapi hal tersebut bukan sebuah masalah bagi bomber. Menggambar adalah dunianya dan graffiti adalah salah satu bentuk ungkapan ekspresinya. Lagipula, atas karya seni mereka jualah dinding-dinding tak bertuan di Salatiga kini menjadi lebih berwarna.

Graffiti gorila
Graffiti gorila karya HOED_hood kini menjadi penghias di dinding Jalan Monginsidi Salatiga berdampingan dengan graffiti lainnya. (Foto: dok.pri.)

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *