Merajut Payung Kebangsaan lewat Festival Payung Indonesia

Festival Payung Indonesia 2017
Festival Payung Indonesia

Mentari masih menggelayut di ujung senja, seolah tak rela jika penghabisan hari akan segera tiba. Angin yang bertiup sepoi membuat payung-payung hias menari dengan terpaksa. Lampu-lampu mulai bangun dari tidur siang untuk menggantikan mentari yang sebentar lagi akan terbenam. Orang-orang pun berduyun-duyun menjejali salah satu ikon wisata Kota Solo ini. Suasana riuh dan keceriaan terpancar dari Pura Mangkunegaran yang biasanya muram.

Saat ini Pura Mangkunegaran menjadi tuan rumah bagi pameran 127 payung rajut karya perajut dari berbagai daerah di Indonesia: Lhoksumawe, Medan, Lampung, Semarang, Yogyakarta, Klaten, Malang, Makasar, Bali, Tangerang, Depok, Sukabumi, Boyolali, Madiun, Pati, Surabaya, Sukoharjo, Kudus, Purwokerto, Magelang dan Pacitan.

Berbeda dari biasanya, Festival Payung Indonesia tahun ini diselenggarakan di Pura Mangkunegaran, alih-alih di Taman Balaikambang seperti yang sudah-sudah. Kali ini Festival Payung Indonesia mengangkat tema “Sepayung Indonesia” dengan harapan bisa merajut kembali rasa persatuan dan kesatuan bangsa serta menghargai sesama. Lewat Festival Payung Indonesia ini orang-orang diingatkan kembali bahwa rakyat Indonesia berdiri di bawah payung yang sama – Pancasila.

Perajin payung sedang melukis payung
Seorang perajin payung sedang melukis payung untuk memperindah payung yang dibuatnya.

Payung bukanlah sesuatu hal yang baru bagi rakyat Indonesia. Benda ini kerap menghias jalanan manakala musim penghujan datang. Tapi tak jarang ia pun kerap terlihat ketika mentari terik bersinar. Biasanya hanya payung berkerangka besi yang umum dijumpai. Namun tidak kali ini. Sebagian besar payung yang ditampilkan, kerangkanya dibuat dari bahan kayu. Payung-payung unik tersebut rencananya akan dipamerkan selama tiga hari di Pura Mangkunegaran, 15-17 September 2017.

Hal yang menarik dari payung-payung di sini adalah bahannya tidak menggunakan kain parasit seperti biasanya, tapi dari kertas, rajutan benang katun dan lurik batik. Mata saya terpaku pada payung yang terbuat dari rajutan benang katun. Benang-benang tersebut dianyam dengan teknik crochet sehingga membentuk jalinan apik yang menghias pada bagian atas kerangka payung.

Berbagai motif berbentuk pineapple stitch, diamond stitch dan masih banyak lagi turut menghias kreasi payung rajut buatan tangan tersebut. Payung-payung rajut tersebut seolah menguatkan pesan yang dibawa oleh panitia penyelenggara Festival Payung Indonesia ini, merajut kembali rasa persatuan dan kesatuan, serta toleransi rakyat Indonesia yang sekarang ini tampak sedikit merenggang.

Payung rajutan
Payung rajut yang dibuat dari rajutan benang katun.

Tak hanya payung rajut, kain batik yang menjadi ikon budaya Indonesia juga turut memperindah kreasi payung yang dipamerkan. Berbagai macam motif batik seperti lurik dan jumputan digunakan untuk menggantikan kain parasit, sama seperti rajutan benang katun. Kreasi ini kembali menambah deretan panjang tentang betapa batik mempunyai banyak sekali fungsi tidak hanya untuk bahan pakaian, namun juga untuk penghias.

Selain mempertontonkan aneka ragam kreasi payung, Festival Payung Indonesia juga turut memajang foto-foto jadul yang menunjukkan berbagai kegiatan dan pose orang-orang yang sedang membawa payung. Dari sekian banyak foto jadul yang dipajang ada satu foto yang menarik perhatian yaitu foto relief payung yang dipahat pada dinding sebuah candi zaman Hindu Buddha di Indonesia. Hal ini menyiratkan bahwa payung memang telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak lama, bahkan sebelum masa kolonial Belanda.

Foto-foto lama dengan tema payung
Foto-foto koleksi lama dengan tema payung yang memperlihatkan bahwa payung memang sudah menjadi bagian dari budaya masyrakat Indonesia.

Seorang teman bahkan berpendapat bahwa payung yang digunakan menjunjukkan strata sosial dari siapa yang yang ada di bawah payung tersebut. “Lihat saja tangkai payung ini begitu panjang, berarti yang dipayungi adalah seorang yang mempunyai derajat tinggi,” tuturnya sambil menunjuk bagian tangkai payung pada foto relief payung. Saya pun menggangguk sambil membayangkan bahwa di dalam kerajaan, biasanya para pengiring raja akan memayungi menggunakan payung dengan tangkai yang sangat panjang. Bisa jadi pendapat itu benar karena saya sendiri tidak pernah melihat orang biasa menggunakan payung model seperti itu dalam keseharian kecuali di pemakaman. Jadi, apakah orang yang sudah meninggal berarti memiliki derajat yang lebih tinggi? Silakan tanya saja sendiri.

pengunjung festival payung indonesia
Para pengunjung mengabadikan momen dengan berpose di stand foto yang telah disediakan dengan latar sebuah payung besar dan payung-payung berukuran lebih kecil sebagai ornamen penghias.

Setiap orang butuh tempat berteduh. Entah yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Dan payung menjadi sebuah alat yang kerap digunakan untuk melindungi diri dari panasnya sengatan mentari atau basahnya air hujan. Begitu juga dalam tatanan bernegara, Pancasila tak ubahnya payung tempat bernaungnya masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *