Mengikat Kembali Budaya Sunda Lewat Totopong

Totopong atau Iket Sunda dengan motif batik nusantara digantung sebagai etalase. (dok.pri.)

Suasana Jalan Asia Afrika, Bandung sangat ramai malam itu. Jalan-jalan begitu padat oleh orang-orang dari berbagai usia yang mencari hiburan atau sekedar berkumpul dengan kawan. Canda tawa terdengar hampir di setiap sudut. Hanya Gedung Merdeka yang tampak sedikit muram karena pejamnya beberapa lampu penerangan. Di sebelah Gedung Merdeka, beraneka macam barang mulai dari makanan, pakaian hingga tato temporer dijajakan.

Dari sekian banyaknya barang yang dipajang, mata saya tertuju pada sebuah ikat kepala yang dikenakan oleh seorang pria dengan wajah tegas dengan baju mirip baju pencak silat. Cara berpakaiannya mengingatkan saya pada tokoh Kabayan. Hanya saja, pria di depan ini memiliki wajah yang lebih serius daripada Kabayan. Di sampingnya berbagai macam ikat kepala dengan aneka motif batik bergelantungan. Sebuah pemandangan yang kontras, saat di sekelilingnya menjual barang kekinian, ia menjual barang sarat nilai budaya khas Sunda.

Asep Lodaya, begitu ia mengenalkan nama lengkapnya kepada saya. Sudah sejak tahun 2006 dia membuat ikat kepala khas Sunda yang dalam bahasa lokal dikenal dengan istilah Totopong. Adalah Pak Eep Hidayat, Bupati Subang tahun 2006 yang menginspirasinya untuk membuat totopong yang ia jual saat ini. Semua totopong yang ia jajakan adalah hasil dari tangannya sendiri. Hidup di lingkungan dengan budaya Sunda yang kental membuat Kang Asep dengan gampang menyulap selembar kain batik menjadi sebuah iket kepala.

Asep Lodaya, praktisi seni yang membuat iket Sunda dalam bentuk yang lebih praktis. (dok.pri.)

Iket kepala berbagai warna dengan motif batik yang beragam dibiarkan bergelantungan sebagai etalase. Dari tiga model iket Sunda yang ada, hanya dua macam model iket kepala Sunda yang dijajakan Kang Asep, Iket Kiwari dan Iket Praktis. Iket Kiwari adalah iket yang modelnya menutup bagian rambut atau model parekos. Iket kepala dengan model seperti ini ia jajakan seharga tiga puluh ribu. Itu pun sudah ia diskon lima ribu dari harga awal tiga puluh lima ribu.

Model kedua yang ia buat adalah iket praktis. Model Makuta Wangsa dan Parekos Gedang adalah model yang ia buat. Iket ini tidak menutup kepala bagian atas seperti Iket Kiwari. Iket Praktis atau iket bolong, sebutan Kang Asep, hanya melingkar pada dahi kepala dengan segitiga pada bagian depannya. Bentuknya persis seperti ikat kepala yang sering digunakan oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil. Ia menjual Iket Praktis seharga dua puluh lima ribu rupiah. Bentuk yang terakhir ini adalah bentuk moderen pungkas pria yang juga anggota Pencak Silat Gadjah Putih ini.

Kecintaannya pada budaya Sunda yang besar akhirnya mendorong Kang Asep untuk memproduksi iket kepala Sunda menjadi lebih praktis. Ia sadar bahwa tidak semua orang bisa menggunakan iket kepala Sunda, terlebih anak-anak kecil. “Untuk anak sekolah, anak kecil belum tentu bisa memakai iket yang segi empat ya,” ujar Kang Asep dengan senyum kecil. Kang Asep sepertinya mengerti betul bahwa di jaman serba instan dan cepat ini, orang-orang menginginkan sesuatu yang praktis. Tak hanya masyarakat Sunda, warga lain pun turut merasakan kemudahan tersebut, saya contohnya. Tanpa harus bersusah payah membuat polanya terlebih dahulu, saya bisa mengenakan iket kepala Sunda.

Kini iket Sunda tidak hanya dipakai oleh praktisi budaya Sunda saja, tapi juga anak-anak, di mana pun. (dok.pri.)

Walaupun totopong adalah bagian dari budaya Sunda, bukan berarti motif batiknya wajib berasal dari wilayah di Jawa Barat. Kang Asep menggunakan batik dari berbagai wilayah di Indonesia, seperti dari Sulawesi, Solo, Pekalongan, untuk membuat totopong.  Dalam satu minggu, sebanyak 200 totopong ia produksi sendiri. Totopong-totopong tersebut biasanya merupakan pesanan dari instansi pemerintah, sekolah atau bahkan dari partai-partai.

“Sebelum dipakai secara umum seperti sekarang ini, totopong dipakai di kampung-kampung adat seperti Baduy (Banten), Ciptagelar (Sukabumi), Kampung Naga (Tasik), Cikondang (Pengalengan). Selain itu totopong juga dipakai oleh praktisi budaya seperti pemain silat dan jaipongan,” tutur Kang Asep menceritakan asal mula dipakainya totopong oleh orang-orang Sunda. “Totopong ini juga mempunyai tiga tingkatan bernama Tri Tangtu,” tambahnya dengan semangat.

Tri Tangtu tersebut mengacu pada golongan orang-orang yang dihormati dan dituakan dalam masyarakat Sunda. Tingkatan pertama adalah Pemimpin atau Ketua Adat, diikuti Resi atau Pemangku Agama dan tingkatan terakhir adalah Pemangku Masyarakat Umum seperti Lurah dan RW. Setiap tingkatan memiliki ciri totopong dengan bentuk dan warna yang berbeda-beda. Itulah mengapa iket Sunda memiliki banyak tipe dan jenis hingga tiga puluh sembilan macam.

Gayung bersambut, keresahan Kang Asep seolah didengar oleh pemerintah setempat. Ridwan Kamil selaku Walikota Bandung menggagas sebuah program bernama Rebo Nyunda. Rebo Nyunda diusung untuk membangkitkan kembali rasa cinta masyarakat Sunda, khususnya Kota Bandung akan budaya Sunda. Program ini adalah bentuk implementasi dari Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2012 pasal 10 ayat 1b yang menyatakan bahwa setiap hari Rabu ditetapkan sebagai hari berbahasa Sunda dalam semua kegiatan Pendidikan, Pemerintahan dan kemasyarakatan. Rebo Nyunda sendiri baru diberlakukan di Bandung tanggal 6 November 2013.

Kang Asep, selain sebagai pembuat iket Sunda, dia juga adalah anggota pencak silat Gadjah Putih.
(dok.pri.)

Tidak hanya mewajibkan untuk menggunakan bahasa Sunda, warga Bandung juga diwajibkan untuk memakai pakaian adat Sunda setiap hari Rabu. Iket kepala batik dan baju pangsi merupakan pakaian wajib untuk laki-laki. Sedangkan kaum perempuan memakai kebaya dan kain batik sebagai bawahan. Pakaian ini dikenakan oleh semua lapisan masyarakat, mulai dari murid-murid sekolah, guru, instansi pemerintah, hingga kepala pemerintah daerah.

Kini Kang Asep bisa tersenyum lega. Masyarakat Sunda sudah mulai sedikit demi sedikit mengenal budaya mereka kembali. Pakaian adat tidak hanya sebatas simbol yang dipakai pada acara-acara tertentu saja, tetapi sudah menjadi gaya hidup masyarakat Sunda. Bahasa Sunda pun sudah kembali terdengar dari sudut-sudut jalan, walaupun baru intensif pada hari Rabu saja. Tapi bukankah sebuah kebiasaan memang harus dibentuk sedikit demi sedikit asal tetap konsisten. “Budaya menunjukkan identitas sebuah bangsa,” ujar Kang Asep sambil membetulkan kain batik yang melingkari kepalanya.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *