Bukit Lintang dalam Balutan Halimun

Pendakian Bukit Lintang Tanah Laut Pelaihari Banjarmasin

“Wah, udah jauh-jauh ke sini tapi zonk, Mas,” celetuk teman saya bernama Fonda ketika berada di puncak Gunung Lintang.

Putih menjadi warna dominan pagi itu. Awan tak jua menyingkap sehingga matahari terkesan enggan untuk bersosialisasi. Sejurus mata memandang kabut ikut menemani. Hujan yang mengguyur sedari subuh menjadi salah satu penyebabnya.

Walau pupus harapan kami melihat matahari terbit kala pagi, pemandangan dari puncak Gunung Lintang sudah membuat saya berdecak kagum. Walaupun disebut gunung, sebenarnya tidak terdapat kawah di sekitarnya. Sebenarnya ini adalah sebuah bukit, bukan gunung. Perbukitan kecil berwarna hijau seperti pada bukit Teletubies berada di sebelah kiri saya. Di sisi kanan barisan bukit dengan garis tebing tegas menjulang. Di depannya menghampar perkebunan sawit dan karet. Jalan yang tadi kami lalui tampak mengular di antaranya.

Kami harus menempuh perjalanan selama hampir satu setengah jam dari gerbang masuk untuk bisa sampai di kaki Bukit Lintang yang berada di ujung horison. Guyuran hujan sepanjang pagi membuat tanah merah yang kami lalui menjadi lebih berat dan licin.

Sesuatu yang luar biasa kadang perlu usaha yang cukup besar untuk diraih. Mungkin itu ungkapan yang pas bagi perjalanan kami menuju Bukit Lintang. Sebuah pengalaman seru yang saya dapatkan bersama teman baru di tanah Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Pukul lima pagi saya dijemput oleh Fonda, seorang teman yang saya kenal dari instagram. Dari foto-foto yang kerap diunggahnya, saya tau jika ia tau tempat-tempat menarik di Banjarmasin. Kami sepakat untuk bertemu dua hari setelah saya tiba di Banjarmasin. Saat pertemuan itulah dia mengajak saya untuk menjelajahi Bukit Lintang bersama dua orang teman lainnya, Fajar dan Nino.

Hitam masih menjadi warna utama tatkala kami berdua meluncur menuju Bukit Lintang. Di jalan, kami bertemu dengan Fajar, teman Fonda, yang juga akan ikut dalam penjelajahan kali ini. Sedangkan Nino akan menunggu di dekat gerbang masuk menuju daerah Bukit Lintang.

Kami mengikuti satu-satunya jalur pendakian menuju Puncak Bukit Lintang yang masih sedikit tertutup kabut. Pendakian ini terkesan mudah, tapi di atas sudah menunggu kami dua tanjakan curam.

Gerimis mengguyur di sepanjang perjalanan. Beberapa kali kami mencoba menghibur diri dengan berkata bahwa gerimis akan berhenti. Namun abu-abu masih saja menjadi warna dominan di langit. Menepis harapan kami melihat matahari terbit dari puncak Bukit Lintang. Pun begitu pantang bagi kami untuk kembali. Wasa sampai kaputing kalau orang Banjarmasin bilang, yang artinya selesaikan sesuatu yang sudah dimulai sampai akhir.

Bukit Pelaihari terletak di daerah Pelaihari, Kalimantan Selatan. Setelah satu jam perjalanan dari Kota Banjarmasin menuju Kabupaten Tanah Laut, akhirnya sampailah kami di gerbang menuju Bukit Lintang. Di sini lah kami bertemu dengan Nino. Hujan semakin deras. Kami pun memutuskan untuk memakai mantol walau sebenarnya jaket kami sudah setengah basah.

Kami berhenti sebentar di tengah perjalanan untuk mengatur nafas dan terpana dengan pemandangan perbukitan hijau yang menghampar saat menengok ke belakang. Sontak saja Fajar langsung mengabadikannya dengan ponselnya.
Kami berempat memacu sepeda motor hingga aspal terakhir. Selanjutnya jalan tanah berbatu sudah menanti di depan. Kondisi tanah basah dan berlumpur membuat kami harus lebih ekstra hati-hati. Belum lagi tanah merah yang licin. Beberapa kali motor kami terjerembab di lumpur. Jika sudah begitu, saya lah yang bertugas untuk mengangkat bagian belakang motor. Belum lagi motor yang mogok karena lumpur melekat pada ban. Bersih memang hanya sebuah kata mitos dalam setiap petualangan.

Jajaran pohon karet yang teratur menjadi pemandangan awal saat kami memasuki hutan. Pohon karet habis, bergantian dengan kebun jagung. Lalu berganti lagi dengan kebun sawit hingga sampai di bawah kaki Bukit Lintang. Kurang lebih dua jam kami sampai di sana sejak dari gerbang.

Selama perjalanan, tidak ada plang petunjuk jalan yang kami lihat. Jarang pula kami berpapasan dengan orang lewat. Kelak kami tahu bahwa kami salah mengambil jalan. Jalan yang kami lalui lebih jauh. Padahal ada jalan yang lebih pendek dan mudah dilalui. Namun, tak selalu kesialan datang bertubi-tubi. Sisi baiknya adalah kami disuguhi pemandangan perbukitan hijau berselimut kabut.

Sebuah tali disiapkan di tanjakan curam untuk membantu para pendaki yang ingin menuju puncak Bukit Lintang.
 Setelah perjalanan panjang yang basah dan atas arahan orang yang kami temui di jalan, sampailah kami di kaki Bukit Lintang. Sepeda motor kami parkir begitu saja di dekat sebuah warung, yang kami duga sebagai basecamp pendakian. Warung ini lah yang menjadi alasan kenapa kami tidak membawa bekal logistik. Sayangnya perkiraan kami meleset. Warung tersebut tutup di hari itu. Jadilah kami hanya berbekal sebotol air minum yang saya bawa.

Pendakian menuju puncak Bukit Lintang kami mulai setelah membereskan mantol yang tadi kami pakai sepanjang perjalanan. Kami berempat mengikuti jalan setapak satu-satunya yang mengarah ke atas bukit. Tidak ada satupun penampakan orang lain di sana. Hanya kami berempat. Tidak juga penjaga basecamp.

tebing tinggi Gunung Meratus
Awan menyibak membiarkan sederatan tebing tinggi Gunung Meratus mengintip. Rasa penasaran menjalar, membuat saya mengira-ira bagaimana lansekap disekeliling kami sebenarnya.

Jalur pendakian tergolong mudah, hanya beberapa titik jalur mulai menanjak curam. Sebuah tali sudah disiapkan untuk siapapun yang membutuhkan bantuan karena memang tidak terdapat batuan sebagai pijakan. Hanya tanah merah yang semakin licin kala terguyur hujan. Sesekali kami harus menerobos ilalang setinggi kepala yang tumbuh liar di kedua sisi jalur. Beberapa kali kami berhenti untuk mengatur nafas sambil mengagumi lansekap di belakang kami.

Keraguan sempat bertandang kala halimun menutup puncak bukit. “Buat apa ke puncak kalau tertutup kabut dan tak bisa melihat pemandangan dari atas? Sudah sampai sejauh ini masak enggak sampai puncak?” Pertanyaan semacam itu beberapa kali terlontar. Namun langkah kami tetap teguh hingga puncak. Setelah mengatasi tanjakan terakhir akhirnya kami menjejakkan kaki di puncak Bukit Lintang.

Cucuran peluh dan rasa lelah terbayar sudah. Bentangan lansekap di depan mata layaknya oase yang menghapus dahaga saya. Segera saja kami mengeluarkan kamera lalu mengabadikannya. Merekam setiap momen untuk kemudian dibagikan ke media sosial. Bahkan Fajar langsung mengunggah foto di Instagramnya setelah terperanjak dengan kemunculan signal 4G di layar ponselnya.

Dari kiri, Fajar, Nino, Fonda dan saya. Kami berpose di puncak Bukit Lintang. Mereka bertiga adalah teman-teman yang baru saya temui dan mengajak saya dalam pendakian Bukit Lintang di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan ini.

Halimun datang dan pergi sesuka hati. Menampakkan bukit-bukit yang berada di horison, sedetik kemudian menyelimutinya kembali. Sama halnya dengan awan putih yang sedari pagi mewarnai langit, hanya menyisakan sebagian kecil warna biru langit. Dalam bagian kecil tersebut mengintip dinding tebing mirip pada tebing Barisan Bukit Menoreh yang lebih tinggi dari bukit-bukit yang ada di depan mata kami. Meninggalkan rasa penasaran pada kami bentuk dari lansekap tanah borneo seutuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *