Festival Gerobak Sapi, Pestanya Para Bajingan

Festival Gerobak Sapi
“Masih semangat hari ini teman bajingan?” sambut MC membuka acara Festival Gerobak Sapi. Sontak saya dan teman di sebelah terkejut mendengarnya. Sebuah kata yang biasanya menjadi umpatan kini dengan santai diucapkan oleh MC dan bisa didengar oleh semua pengunjung Festival Gerobak Sapi, termasuk anak-anak kecil. Tak ada satupun orang yang marah atau meminta MC untuk diam saat mendengarnya, malahan semua orang tampak bersemangat menjawab sambutan tersebut. Mungkin kalau ada KPI, kata tersebut sudah disensor berulang kali. Atau MC bakal dicekal karena berulang kali mengatakan kata kotor di depan umum.

MC Festival Gerobak Sapi itu sebenarnya tidak sedang mengumpat. Kata ‘bajingan’ yang ia ucapkan berulang kali sebenarnya merujuk pada kusir gerobak sapi. Dalam bahasa Jawa, ‘bajingan’ adalah sebutan untuk orang yang berprofesi sebagai pengemudi gerobak sapi. Sumber lain mengatakan kata ‘bajingan’ merupakan singkatan dari Bagusing Jiwo Angen-angen Ajining Pangeran yang artinya ‘jiwa yang baik yang dikehendaki Tuhan’. Entah bagaimana sejarahnya hingga kata bajingan mengalami pergeseran makna  sebagai umpatan atau kata makian.

Sapi-sapi dibiarkan bersantai sebelum pacuan dimulai, begitu juga dengan para bajingan. (dok.pri.)

Festival Gerobak Sapi adalah acara budaya tahunan Jogjakarta. Inilah tempat berpesta para bajingan dengan sapi-sapinya. Festival ini sudah diselenggarakan selama empat tahun berturut-turut. Penyelenggaraannya mengambil tempat yang berbeda tiap tahunnya. Dua penyelenggaraan awal dilakukan di Prambanan dan Stadion Meguwo, Sleman. Baru tahun ini dan tahun sebelumnya dilakukan di tempat yang sama, Stadion Sultan Agung, Bantul. Rencananya tahun depan Festival Gerobak Sapi akan dilakukan di Prambanan lagi. Pengambilan tempat yang berbeda ini tujuannya untuk memperkenalkan daerah-daerah Jogajakarta.

Festival Gerobak Sapi diselenggarakan selama dua hari. Hari pertama diisi dengan acara kirab atau karnival gerobak sapi. Gerobak Sapi dengan gerobak yang dihias maupun tidak diarak berkeliling di daerah di sekitar Stadion Sultan Agung Bantul. Acara ini diikuti oleh sekitar 246 sapi pada hari pertama dan ratusan gerobak sapi yang dihias.

Sapi-sapi mulai diarahkan untuk menuju lintasan pacuan sebelum karapan gerobak sapi dimulai. (dok.pri.)

Sedangkan hari kedua festival diisi dengan acara karapan sapi atau balap sapi dan lomba gerobak sapi hias. Akibat dari banyaknya sapi yang sakit karena hujan yang mengguyur di hari pertama, hanya sedikit saja yang berpartisipasi. Selebihnya memilih untuk pulang dan mengistirahatkan sapi-sapinya.

Lomba karapan sapi ala Jogja ini tidak jauh berbeda dengan karapan sapi dari Madura. Dua buah gerobak disiapkan dijalur lintasan dan kemudian bajingers (bajingan-bajingan) membawa sapi mereka dan mengaitkannya pada gerobak yang sudah disediakan. Sapi-sapi tersebut nantinya akan berlomba adu cepat hingga ke garis finish. Tidak ada belokan, hanya lintasan lurus saja karena sapi tidak bisa berbelok ketika berlari sambil menyeret gerobak. 

Tidak hanya orang tua, anak-anak pun juga ikut meramaikan acara festival gerobak sapi.
(dok.pri.)

Teriknya mentari pagi itu tak serta mengurangi kemeriahan karapan sapi ala Jogja ini. Kami para penonton menonton pacuan gerobak sapi dari pagar lintasan. Saya lebih memilih berada di dekat garis start sehingga mudah bagi saya untuk mengambil gambar saat pacuan gerobak sapi dimulai. Kini semua pusat perhatian tertuju pada pacuan gerobak sapi. Semua orang menunggu dengan sabar dan tenang. Para bajingan di atas gerobak terlihat tegang. Mereka menunggu aba-aba untuk memacu sapi-sapinya. Begitu aba-aba diberikan, suara pecutan langsung melengking dan para sapi yang kaget pun berlari terbirit-birit. Penonton riuh rendah memberikan semangat dengan teriakan.

Dua bajingan atau kusir gerobak sapi bertugas untuk mengendalikan sapi. Mereka berdiri di atas gerobak sambil menggunakan cambuk untuk mengarahkan sapi dan membuat sapi berlari cepat. Selain harus beradu cepat sampai ke garis finish, salah satu kusir juga harus mengambil bendera yang sudah diletakkan di pinggir lintasan. Mereka harus meraihnya selama gerobak sapi melaju. Tak jarang pengambil bendera harus melompat dari gerobak sapi untuk kemudian berlari mengambil bendera di pinggir lintasan karena sapi-sapi tersebut tidak bisa diarahkan.

Dua bajingan berada di atas gerobak sambil melecuti sapi-sapinya agar melaju dengan kencang berpacu dengan waktu. Salah satu bajingan nantinya harus meraih bendera yang diletakkan di pinggir lintasan. (dok.pri.)

Hanya 5 team yang mengikuti karapan gerobak sapi. Jumlah yang sedikit ini sedikit membuat kecewa para penonton yang tampaknya masih haus akan hiburan, termasuk saya. Kebanyakan dari kami mengira karapan gerobak sapi akan ramai sekali melihat banyaknya sapi yang ada di sekitar area pacuan. Nyatanya tidak semua sapi ikut balapan. Beberapa hanya datang meramaikan acara saja.

Saat tahu balapan gerobak sapi sudah berakhir, saya memutuskan untuk mencari kedua teman seperjalanan saya, Ucil dan Edi. Dari awal kami bertiga sudah berpencar untuk mencari spot pengambilan gambar sesuai dengan keinginan kami sendiri. Dalam perjalanan kembali ke tempat parkir mobil, saya masih mampir ke beberapa gerobak sapi untuk melihat sapi-sapi yang sedang asyik mengunyah rumput lebih dekat.

Selesai pacuan, sapi-sapi diarahkan untuk kembali ke tempat awal. Para remaja berseragam pramuka turut serta mengamankan area pacuan. (dok.pri.)

“Ini sapi ras Benggala (baca: Benggolo), mas” menjawab rasa penasaran saya tentang ras sapi yang dibawa di Festival Gerobak Sapi ini. Sapi ini berwarna putih besar dengan satu punuk seperti unta di punggungnya dan tanduk di kepalanya. Dari namanya saja saya sudah bisa menduga kalau sapi Bengala ini berasal dari India. Sapi jenis ini merupakan sapi pekerja atau potong. Sapi-sapi ini biasanya mendapatkan perlakuan khusus dan makanan khusus sebelum diikutkan lomba pacuan. Tujuannya agar kondisi dan stamina terjaga sehingga sapi-sapi tersebut bisa mengikuti pacuan secara maksimal.

Selain sebagai ajang pacuan dan lomba hias gerobak sapi, para pemilik sapi juga memanfaatkan Festival Gerobak Sapi sebagai tempat untuk bertransaksi jual beli sapi. Mereka tidak secara sengaja menawarkan sapi-sapi miliknya, namun pembelilah yang biasanya menghampiri untuk menawar sapi mereka. Harga Sapi Benggala yang sudah mengikuti festival gerobak sapi umumnya akan dihargai lebih mahal. Apalagi jika sapi tersebut menang lomba. Jika sapi Benggala normalnya dihargai 17-20 juta, di sini harganya bisa meningkat dari 22-26 juta, tergantung dari kesepakatan penjual dengan pembeli.

Tidak hanya pacuan, festival gerobak sapi juga dimeriahkan dengan lomba gerobak sapi hias. Gerobak-gerobak tersebut menarik minat para pengunjung. Banyak dari mereka mengabadikan momen sambil berfoto dengan gerobak sapi hias sebagai latar belakang. (dok.pri.)

Hari semakin terik. Orang-orang mulai menepi mencari tempat berteduh. Bajingers sudah banyak yang menggiring sapi-sapinya pulang. Bersama dua teman saya, Edi dan Ucil, kami pun sekata meninggalkan Stadion Sultan Agung dan kembali mengaspal di Jogja menuju tujuan berikutnya.

Salam Bajingan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *