Liak-Liuk Penandak Joget Bumbung

Penari Joged Bumbung
Sepasang kaki lincah menuruni anak tangga dengan ukiran naga di kedua tangan tangga. Tubuhnya berbalut busana tradisional Bali berwarna terang. Rambutnya panjang tergerai hingga sebatas pinggang. Tangan dan badannya meliuk gemulai mengikuti irama tabuhan para pengiring di sisi kiri panggung. Matanya tajam melirik ke kanan dan ke kiri. Senyum simpul sesekali menghiasi wajah nan ayu sang penari.
Tiba di pelataran panggung, riuh tepuk tangan para penonton membahana. Sang penari yang sudah lama ditunggu akhirnya tiba. Sejurus kemudian para penonton termasuk saya dengan sigap mulai membidikkan kamera. Kini suara shutter kamera bersaing dengan instrumen memenuhi udara.
Tabuhan gamelan menjadi pengiring penari Joged Bumbung. Irama dan ritme gamelan turut menjadi penentu ritme penari Joget Bumbung.
 
Joget Bumbung, begitu MC memperkenalkan bersamaan dengan penari yang semakin asyik menandak tenggelam dalam irama tabuhan. Joged Bumbung adalah tarian pergaulan yang dulunya dilakukan untuk menghibur petani yang sedang beristirahat mengolah sawah. Joged yang berasal dari Buleleng, Bali ini kemudian berkembang ke daerah lain karena diminati oleh banyak orang.
Pada perkembangannya, Joget Bumbung sempat menjadi kontroversial dan mendapat julukan lain, Joget Porno. Hal ini tidak lain dikarenakan ngegol atau goyangannya yang cukup “panas”. Ini adalah cara dari sekaa (kelompok) untuk bertahan dan bersaing dengan sekaa dari banjar lain. Alasannya Joget Bumbung dengan goyangan panas lebih banyak diminati.
Namun Joget Bumbung yang saya saksikan sore itu di Art Center, Denpasar sama sekali tidak menampilkan ngegol yang “panas”. Tubuh para penari memang meliak-liuk, tapi masih dalam tahap yang wajar. Pun saat para pengibing yang dipanggil MC secara bergiliran menari dan menggoda penari Joget Bumbung. Mereka tetap menari dengan gerakan yang wajar. Terlihat sesekali gerakan dan sapuan manja oleh penari Joged Bumbung saat digoda atau menggoda pengibing. Bagi saya, hal tersebut merupakan bagian dari pertunjukkan.
Walaupun tidak ada batasan umur bagi para pengibing penari Joged Bumbung, kebanyakan pengibing didominasi oleh pria dewasa. Anak laki-laki tersebut merupakan pengibing termuda di antara yang lainnya.
Setiap penari Joget Bumbung ditemani oleh pengibing yang secara bergiliran dipanggil oleh MC. Pengibing biasanya adalah para lelaki dari penonton yang ingin ikut menari. Sebelumnya, mereka harus mendaftar kepada panitia untuk menjadi pengibing. Umur tidak menjadi batasan bagi pengibing. Namun umumnya hanya orang tua yang mau menjadi pengibing. Walaupun sore itu saya melihat ada seorang remaja yang juga ikut menjadi pengibing. Keduanya tampak sedikit canggung saat menari di atas panggung. Mungkin karena penari melihat pengibing yang masih anak-anak sehingga mereka berdua tidak bisa total menari seperti saat dengan pengibing dewasa lainnya.
Di awal acara, penari akan mengikatkan sebuah selendang ke pinggang pengibing. Selanjutnya mereka akan menari bersama dibarengi oleh tabuhan dari gamelan di sisi panggung. Saya jadi teringat oleh penari Ronggeng saat melihat Joget Bumbung. Mereka mempunyai kesamaan dalam hal menari bersama pengibing. Para pengibing akan menggoda penari berusaha menarik perhatian penari. Sedangkan penari tampak malu-malu kucing atau kadang pura-pura kesal saat pengibing menggodanya. Berbagai properti digunakan oleh pengibing saat menari. Mulai dari dedaunan, hingga topeng dan kacamata rusak pun digunakan. Semua dilakukan agar acara menjadi lebih meriah dan membuat para penonton terhibur.
Setiap pengibing diperbolehkan menggunakan properti selama menari. Berbagai macam atribut yang dikenakan bertujuan untuk menghibur para penonton Joget Bumbung agar suasana menjadi lebih meriah dan penuh canda.
Sepuluh menit adalah rata-rata waktu yang diberikan oleh pengibing saat menari bersama penari Joget Bumbung. Tugas MC yang memberitahu kapan pengibing harus bergantian. Pada akhir tarian, saya melihat beberapa pengibing sempat memberikan sebuah amplop kepada penari Joget Bumbung. Memberikan amplop bukanlah hal wajib, karena ada juga pengibing yang melenggang pergi saat diminta untuk bergantian. Saya melihat amplop itu diberikan lebih sebagai bentuk apresiasi karena sudah mau menari bersama. Sekali lagi saya jadi teringat tarian Ronggeng.
Selama dua jam, empat penari Joget Bumbung tampil bergantian menandak di atas panggung. Setiap tarian mempunyai gambaran tema dan cerita tersendiri, seperti Layon Sari dan Sekar Sari. Hanya satu Sekaa yang tampil sore it, yaitu Sanggar Seni Kebo Iwa. Selama dua jam duduk di depan panggung, tak satupun saya mengerti tentang cerita dari tarian-tarian yang ditampilkan. Di mata saya, semua tarian tampak sama. Pun dengan cerita, telinga saya tak bisa menangkap arti satupun dari kata-kata yang diucapkan oleh MC dalam bahasa Bali. Hanya mata saya yang bisa menikmati lenggak-lenggok penandak Joget Bumbung dan polah usil para pengibing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *