Belajar Bahasa Isyarat Bersama Sahabat Tuli Salatiga

Sahabat Tuli Salatiga

 Sebuah percakapan tak melulu harus menggunakan bahasa verbal. Sama halnya percakapan antara seorang ibu dengan bayinya yang belum bisa berbicara. Karena sang buah hati belum benar-benar bisa berbicara, maka mereka mengembangkan bahasa lain untuk berkomunikasi. Bahasa tersebut berupa bahasa isyarat menggunakan gerakan anggota badan dan suara yang seringkali belum membentuk kata dari sang bayi untuk bisa berkomunikasi dengan ibunya. Ajaibnya, sang ibu bisa mengerti apa yang buah hatinya coba sampaikan. Sebuah ikatan antara ibu dan anak memang sangat mengagumkan.

Sambil duduk bersila, jari jemari saya terbata-bata mengikuti gerakan Sudi. Gerakan jemarinya lincah membentuk pola-pola yang melambangkan huruf alfabet yang tertera pada selembar kertas yang dibawanya. Dengan menggunakan kedua jari telunjuk dan ibu jarinya, dia membentuk sebuah segitiga. Gerakan jari tersebut melambangkan huruf A. Tiga jari kanan: jari telunjuk, jari tengah dan jari manis, direkatkan dengan jari telunjuk sebelah kiri mempunyai arti huruf B. Kemudian dia membentuk simbol huruf alfabet berikutnya hingga huruf Z secara berurutan. Selesai dengan alfabet secara berurutan, saya pun diminta untuk mendemonstrasikan gerakan tangan yang melambangkan huruf alfabet secara terbalik. Mulai dari Z hingga A. Beberapa kali saya menemui kesulitan. Jangan untuk membuat isyarat dengan tangan, mengucapkannya dengan terbalik saja sudah membuat saya kebingungan.

Berikutnya Sudi mengeluarkan kertas putih berisi urutan angka mulai dari 1-20. Sama seperti sebelumnya, dia kemudian membuat gerakan jari yang melambangkan angka-angka tersebut. Sudi menggelengkan kepala setiap kali saya salah membentuk gerakan jari. Seketika saya langsung membetulkan kesalahan gerakan. Senyuman mengembang di wajahnya. Sederet kemudian dia mengangkat jempolnya ke arah saya sebagai apresiasi saya bisa menirukan gerakan dengan benar. Saat sudah selesai dengan angka, saya pun diminta untuk mengulang kembali semua gerakan yang sudah diajarkan tanpa bantuannya sama sekali.

Sudi mengajarkan alfabet dalam bahasa isyarat kepada salah satu pengunjung.
Sudi mengajarkan alfabet dalam bahasa isyarat kepada salah satu pengunjung.

Kurang lebih setengah jam Sudi mengajari saya bahasa isyarat. Mulai dari alfabet, angka, warna, hari, hingga kata-kata sederhana lainnya. Setiap kali selesai dengan satu sesi, saya diminta untuk mengulang sendiri agar saya tetap mengingat gerakan yang diajarkan olehnya. Tentu saja semua dilakukan tanpa suara karena Sudi memang tidak bisa berbicara atau mendengar. Walaupun tanpa kata-kata, saya tetap bisa belajar bahasa isyarat dengan baik. Yah, namanya juga bahasa isyarat. Pasti lebih condong menggunakan gerakan daripada kata-kata.

Tidak bisa mendengar dan berbicara bukan halangan bagi Sudi, Adi dan Dewi, pengajar bahasa isyarat di stand ‘Sahabat Tuli Salatiga’, untuk berkomunikasi dengan orang lain. Sudah lama mereka hidup dalam keterbatasan dengan tidak bisa berbicara dan mendengar dengan sempurna. Penyebabnya berbeda-beda. Adi memang sudah tuli sejak lahir. Sudi terlahir sebagai anak normal, tapi demam tinggi yang diderita saat kecil mengakibatkan gendang telinganya rusak. Hampir sama dengan Sudi, Dewi juga normal saat masih anak-anak. Setidaknya sampai dia umur tiga tahun. Dia kehilangan indra pendengarannya karena terjatuh saat umur tiga tahun. Gendang telinganya pecah. Sejak itu Dewi tidak bisa mendengar hingga sekarang. Dengan tidak berfungsinya indra pendengarannya, maka dia tidak bisa mengenali suara yang pada akhirnya membuatnya tidak bisa berbicara. Alhasil dia menggunakan bahasa isyarat sebagai pengganti kata. Sama seperti dua orang lainnya, Adi dan Sudi. Satu hal yang membuat saya tertegun adalah ketika melihat mereka tetap bisa bercanda dan tertawa saat berbincang-bincang menggunakan bahasa isyarat. Luar biasa, pikir saya. Perasaan yang disampaikan tidak melulu harus diutarakan lewat ucapan, tapi juga bisa lewat gerakan isyarat jari tangan dengan mimik sebagai bumbu tambahan.

Puhan dengan stand Sarang Lebah miliknya yang menjadi rumah kedua bagi para Sahabat Tuli Salatiga
Puhan dengan stand Sarang Lebah miliknya yang menjadi rumah kedua bagi Sahabat Tuli Salatiga

Seorang wanita ramah berperawakan kecil dan rambut pendek menghampiri saya setelah sesi belajar usai. “Saya sudah bersama mereka (Sahabat Tuli Salatiga) sejak tahun 2011,” ujarnya menjawab pertanyaan saya. Dia adalah Puhan, pendamping Dewi, Sudi dan Adi. Sudah lima tahun dia menjalin kedekatan dengan Sahabat Tuli Salatiga. Perjumpaannya dengan Dewi lah yang membantunya mengenal mereka. “Ini adalah salah satu mimpi saya, mas, bisa membantu orang tuli,” tambahnya. Panjang lebar dia menceritakan bagaimana awalnya bisa bergabung dengan Sahabat Tuli Salatiga hingga sekarang. Saya bisa melihat antusiasmenya dari sorot matanya yang menyala ketika dia sedang bercerita.

Salah satu cerita menarik yang diceritakan oleh Puhan adalah mereka lebih suka dipanggil tuli daripada tunarungu. Bagi mereka, tuli terdengar lebih sopan daripada tunarungu. Masih menurut pendapat mereka, tunarungu memiliki arti tidak bisa mendengar sama sekali. Padahal mereka masih bisa mendengar. Bukan dengan telinga melainkan dengan hati. Alasan itulah yang menjadi dasar mereka lebih suka dipanggil tuli. Saya mengernyitkan dahi mendengarnya. Jika mengacu pada kaidah Bahasa Indonesia, kata tunarungu dianggap lebih sopan daripada tuli. Hal ini membuat saya berpikir siapa sebenarnya yang berperan memutuskan tingkat kesopanan sebuah kata? Pembuat KBBI atau masyarakat?

Lima tahun sudah Puhan bersama Sahabat Tuli Salatiga. Selama masa itu dia mencoba mengenal orang tuli di Salatiga yang berjumlah sekitar lima puluh orang. Dia bahkan sampai mendatangi rumah mereka satu persatu. Dengan begitu dia bisa mengenal setiap orang tuli lebih dekat sehingga dia bisa tahu bagaimana harus bersikap dengan mereka. Saya terkesima mendengar perjuangannya. Selain mencoba mengenal karakter mereka, Puhan bersama beberapa relawan lain selalu berusaha agar eksistensi Sahabat Tuli Salatiga bisa lebih terlihat oleh publik. Salah satunya adalah membuka kelas bahasa isyarat gratis. Awalnya kelas ini dibuka di Selasar Kartini Salatiga, tapi kemudian pindah di Sarang Lebah, galeri aksesoris dan kedai teh miliknya yang terletak di daerah Kembang Arum, Salatiga. Kelas bahasa isyarat ini dibuka setiap hari Sabtu dengan Dewi, Adi, Sudi dan Puhan sebagai pengajarnya secara bergantian. Kelas ini terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar.

Dewi sedang mengajarkan alfabet dalam bahasa isyarat kepada pengunjung
Dewi sedang mengajarkan alfabet dalam bahasa isyarat kepada pengunjung

Indonesia mempunyai tiga macam gerakan yang digunakan untuk bahasa isyarat. Ada Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI), Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) atau disebut juga bahasa dua tangan dan American Sign Language (ASL). Yang terakhir adalah bahasa internasional – mereka menyebutnya bahasa satu tangan.

Pada prakteknya, BISINDO lebih banyak digunakan oleh orang tuli dibandingkan SIBI, walaupun SIBI ditetapkan oleh pemerintah untuk diajarkan di SLB Negeri. Kemudahan untuk dipahami menjadi alasan utama. Puhan menerangkan jika pembuat bahasa isyarat dari kedua jenis bahasa tersebut yang menjadi salah satu penyebabnya. SIBI dibuat oleh orang yang bisa mendengar, sedangkan BISINDO dibuat dari gerak tubuh penyandang tuli. Selain itu, gerakan dalam BISINDO mempunyai kemiripan dengan penggambaran dalam kata sehingga lebih mudah untuk dipelajari. Mengacu pada alasan tersebut, Kelas Bahasa Isyarat di Sarang Lebah juga memilih untuk mengajarkan BISINDO daripada SIBI.

Sama seperti bahasa verbal, bahasa isyarat juga selalu berkembang. Ada gerakan isyarat baru yang selalu muncul dalam setiap perkembangannya. Gerakan isyarat yang baru ini disebut dengan bahasa budaya karena gerakannya berbeda-beda untuk setiap wilayah. Sebagai contoh, untuk isyarat kata nenek, Adi menggunakan gerakan menyentuhkan punggung jari telunjuk kanan ke pipi kanan. Sedangkan Sudi menggunakan gerakan jari telunjuk dan ibu jari yang ditempelkan di dekat bibir bagian bawah.

Memang jumlah mereka sedikit, tapi bukan berarti mereka tidak berhak mendapatkan layanan yang sama bukan? Beruntung bagi mereka yang walau tuli tapi masih bisa membaca dan menulis. Namun jangan tanya soal tata bahasa mereka. Saya ingat cerita Puhan tentang betapa bingungnya dia saat menerima sms dari orang tuli. Pesan yang diterimanya seperti sebuah sandi rahasia yang harus dipecahkan untuk mengetahui isi dan maksudnya. Biasanya kata-kata tersebut tidak berada dalam susunan yang tepat. Ditambah lagi orang tuli tidak mengenal kata imbuhan.

Saya belajar banyak hal dari Sahabat Tuli Salatiga. Selain bahasa isyarat, mereka juga mengajarkan saya betapa bisa mendengar merupakan sebuah nikmat dari Tuhan. Betapa tidak? Kita bisa mengenali berbagai macam suara yang berbeda-beda, entah suara yang indah atau menjengkelkan. Bahkan, kita juga bisa mengenali sesuatu, dan juga seseorang, hanya melalui suaranya saja. Ambil contoh saja suara binatang. Kita bisa mengenalinya hanya dengan mendengar suaranya saja. Sungguh luar biasa kan?

Melihat antusiasme saya, Dewi kembali menawari saya belajar bahasa isyarat sesi kedua. Kali ini dia akan mengajarkan frasa dan kalimat sederhana. Berbeda dengan sesi pertama, di sesi kedua ini saya butuh waktu lebih lama untuk merekam gerakan yang dibuat oleh Dewi sebelum memeragakannya sendiri. Kepala saya mendadak pusing menerima begitu banyak bahasa isyarat yang diajarkan dalam waktu singkat. Namun saya tetap menikmati pelajaran bahasa isyarat yang diberikan. Mereka juga terlihat bersemangat dan senang manakala bisa mengajarkan bahasa isyarat kepada pengunjung yang datang. Karena bagi mereka bisa mengajarkan bahasa isyarat adalah sebuah bentuk penghargaan. Tanda bahwa mereka diterima oleh publik.

Tertarik untuk belajar bahasa isyarat bersama Sahabat Tuli Salatiga? Datang saja ke Sarang Lebah setiap hari Sabtu jam 10 pagi sampai 1 siang! Kalian bisa belajar bahasa isyarat sambil ngeteh di sini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *