Taman Nasional Baluran, Afrikanya Indonesia!

savana bekol taman nasional baluran banyuwangi
Savana Bekol (Foto: Dian Pramudita)

Warna hijau yang mendominasi bangunan di sekitar pintu gerbang membuat saya lebih merasa memasuki sebuah komplek tentara dibandingkan sebuah taman nasional. Tapi kesan kaku yang saya rasakan perlahan mulai hilang ketika sudah sampai di bagian loket. Kami memulai petualangan di Taman Nasional Baluran setelah menebus tiket seharga seratus ribu rupiah untuk satu mobil dengan enam orang di dalamnya.

Petualangan kami di Taman Nasional Baluran diawali dengan menyusuri jalur tanah dan bebatuan. Jalan satu-satunya yang mengarahkan kami menuju Bekol, salah satu tempat pemberhentian. Sepanjang perjalanan kami lebih banyak menjumpai pepohonan dibanding binatang. Kalau pun menemui binatang, itu pun hanya monyet berekor panjang. Selebihnya hanya suara binatang tanpa kehadirannya.

Savana Bekol dengan latar Gunung Baluran
Setelah lebih dari satu jam digoyang di dalam mobil, kini kami disuguhi oleh panorama savana yang memiliki luas hingga 300 hektar. Baluran sendiri memiliki savana dengan luas hingga 10.000 hektar dan menjadikannya sebagai savana alami terluas di Pulau Jawa. Tak heran jika Taman Nasional Baluran mendapat julukan “Little Africa in Java.” Beberapa pohon kering tak berdaun dan rumput yang pendek berwarna coklat memberikan kesan gersang pada savana tersebut. Di sini sekali lagi hanya monyet berekor panjang yang kami jumpai. Bahkan jumlahnya lebih banyak daripada saat di pintu gerbang.

Kami memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di tempat peristirahatan yang terletak di ujung jalan sebelah utara savana. Tempat ini lah yang dinamakan Bekol. Beberapa penginapan juga tersedia di sini. Termasuk gardu pandang untuk memudahkan pengunjung yang ingin melakukan observasi perilaku fauna. Saran saya, lakukan reservasi terlebih dahulu jika ingin menginap di sini. Atau jika sedang beruntung, pengunjung bisa langsung datang dan menginap di penginapan di sini seperti rombongan dari Jakarta yang saya temui.

Jujuk menggendong Ayu menuju pohon di tengah savana
Jujuk menggendong Ayu menuju pohon di tengah savana (dok.pri)

Kami berjalan menuju sebuah pohon yang berdiri sendiri di Savana Bekol yang tak jauh dari tempat kami berdiri untuk melemaskan otot yang kaku setelah perjalanan panjang. Tanahnya yang retak-retak menggambarkan jika hujan sepertinya jarang mampir di kawasan ini walaupun seharusnya curah hujan cukup tinggi pada bulan Desember. Tak perlu waktu lama untuk menstranfer pemandangan Savana Bekol siang itu ke dalam format digital di kamera kami. Rasanya sangat rugi jika tidak mengabadikan hamparan savana yang indah ini.

Warna biru muda yang sebelumnya menghiasi langit di atas serta cahaya mentari yang kuat tiba-tiba hilang berganti angin mendung berwarna abu-abu pekat. Semenit kemudian air hujan turun mengguyur savana yang kering ini. Kami pun berlarian mencari tempat berteduh. Saat sedang berteduh, kami disuguhi pemandangan yang membuat kami benar-benar merasa sedang berada di Afrika. Dari balik horison, terlihat segerombolan rusa berjalan mendekat. Warna coklat kulitnya sempat tersamarkan oleh guyuran hujan dan membuat kami harus sedikit memincingkan mata agar bisa melihatnya dengan jelas.

Gerombolan rusa di Savana Bekol yang datang saat hujan turun
Gerombolan rusa di Savana Bekol yang datang saat hujan turun (dok.pri)

Tanpa menghiraukan derasnya air hujan, saya dan Ucil berusaha mendekat dan mencari sudut terbaik untuk mengambil foto tanpa harus membuat para rusa tersebut ketakutan. Saya merasakan perasaan senang yang membuncah ketika melihat segerombolan rusa tersebut berjalan semakin mendekat. Padahal saya sudah sangat biasa melihat fauna, apalagi seperti rusa. Saat mengunjungi Gembira Loka Zoo pun saya juga menjumpai kumpulan rusa. Tapi melihatnya langsung di alam liar dan habitat aslinya menghadirkan rasa yang berbeda.

Salah satu rusa yang sadar kamera
Salah satu rusa yang sadar kamera (dok.pri)

Gerombolan rusa tersebut menghilang ke dalam hutan yang berada di balik penginapan. Sejurus dengan itu, hujan mulai reda. Rasanya hujan yang turun mendadak adalah untuk mengawal kedatangan rusa agar mereka tidak diganggu oleh kami saat sedang berjalan-jalan di Savana Bekol. Atau mungkin malah sebaliknya?

Rusa dan monyet berekor panjang bukanlah satu-satunya binatang yang bisa dijumpai di sini. Di Taman Nasional Baluran ini hidup berbagai macam fauna seperti kerbau liar, banteng, babi hutan, kucing batu dan kucing bakau hingga macan tutul.

Lutung, salah satu primata yang tinggal di Taman Nasional Baluran Banyuwangi
Lutung, salah satu primata yang tinggal di Taman Nasional Baluran Banyuwangi (dok.pri)

Hujan kini sudah benar-benar reda dan langit kembali membiru. Begitu pula dengan mentari yang mulai bersinar. Kami sepakat untuk meneruskan perjalanan menuju Pantai Bama yang terletak di sebelah timur Savana Bekol. Sepanjang perjalanan, kami kembali dibuat terpukau oleh keanekaragaman tumbuhan yang berdiri mengawal perjalanan kami. Pandangan kami tertuju pada satu jenis pohon yang menjulang tinggi dengan kulit seperti pohon palem. Pohon tersebut semakin terlihat unik karena daunnya hanya berada di bagian pucuk saja seperti daun pohon kelapa hanya saja lebih pendek. Kami juga berjumpa dengan lutung atau monyet hitam yang sedang bersantai di dahan pohon sambil mengeluarkan suara khasnya yang bisa terdengar hingga beberapa kilometer.

Pohon tinggi yang sempat menjadi topik perdebatan kami dan sampai hari ini kami masih belum mengetahui namanya
Pohon tinggi yang sempat menjadi topik perdebatan kami dan sampai hari ini kami masih belum mengetahui namanya (dok.pri)

Plang bertuliskan Pantai Bama menyambut kami di ujung jalan yang kami lalui. Lagi-lagi monyet berekor panjang berkeliaran di sini. Kami harus hati-hati karena mereka suka mengambil barang, terlebih makanan. Mereka cukup pandai mengintai dan terkesan tidak takut dengan manusia. Pernah satu kali salah satu dari kawanan monyet tersebut dengan sukses mengambil makanan kami di saat kami sedang lengah. Tapi untung saja yang diambil adalah makanan. Bayangkan kalau yang diambil adalah kunci mobil atau kamera, bisa-bisa seharian kami menguber mereka.

Pantai Bama memiliki pasir putih yang membentang dan diapit oleh hutan bakau. Air lautnya hangat dan cukup tenang. Tak satupun ombak besar saya lihat saat sedang di sana. Begitu sampai, saya dan Ucil langsung mengaitkan hammock di dua batang pohon yang terletak berdekatan. Setelah selesai, kami lantas memasak air untuk membuat kopi. Suasananya yang tenang sangat cocok untuk bersantai sambil minum kopi. Tapi tetap saja kami harus waspada karena monyet-monyet berekor panjang berjaga di sekitar kami. Mereka menunggu hingga kami lengah untuk kembali mencoba mengambil makanan.

 Bersantai di Pantai Bama sambil ngopi
 Bersantai di Pantai Bama sambil ngopi (dok.pri)

Melihat air laut yang tenang, Jujuk, teman saya, langsung snorkeling di dekat pantai. Menurutnya tidak banyak koral yang bisa dilihat di daerah itu. Keinginan saya untuk tidak berenang semakin besar manakala mendengar pernyataan tersebut. Lalu seorang laki-laki sambil menenteng alat snorkeling di tangan kanannya datang menghampiri kami. Dia menunjukkan kepada kami posisi terbaik untuk snorkeling, sekitar dua ratus meter ke arah timur hutan bakau di sebelah kanan. Dengan rasa penasaran yang cukup besar, Ucil segera mengenakan snorkel dan fin miliknya dan berenang menuju spot snorkeling yang dikatakan tadi.

Jujuk benar-benar menikmati “me-time”nya (dok.pri)

Karena alat snorkeling hanya ada satu maka hanya Ucil saja yang snorkeling. Selebihnya kami tetap berada di pantai dan saya lebih memilih untuk berayun di atas hammock sambil menikmati secangkir kopi hitam.

Kurang lebih setengah jam kemudian Ucil kembali dan bercerita kalau alam bawah laut Baluran memang menawan. Beranekaragam ikan dan warna-warni koral dapat dijumpai di dalam sana akunya. Dengan wajah ceria dia menambahkan kalau sempat bertemu dengan ikan badut atau clown fish yang bersembunyi di antara anemon laut. Sayang hanya ada satu alat snorkeling, kalau ada lebih mungkin saya sudah ikut terjun ke sana.

Ucil yang sumringah setelah menemukan spot snorkeling baru (dokpri)
Ucil yang sumringah setelah menemukan spot snorkeling baru (dok.pri)

Lewat dari jam empat sore monyet-monyet yang tadinya berkeliaran di sekitar kami tiba-tiba mulai menghilang. Saya tak ingat kapan persisnya mereka mulai meninggalkan kami dan karena alasan apa. Saya hanya bisa berspekulasi kalau mereka pergi entah karena bosan menunggu atau memang karena hari mulai gelap dan ingin kembali ke sarang.

Senja sedikit demi sedikit mulai menghilang. Di saat yang bersamaan akhirnya saya (mungkin) mengerti alasan para monyet tersebut menghilang. Begitu juga kami yang mempunyai alasan kuat (yang mungkin sama) untuk sesegera mungkin meninggalkan Pantai Bama. Alasan kami bukan karena takut gelap malam, tapi lebih kepada lalat-lalat besar yang hinggap di tubuh kami dan mengigit. Gigitannya lebih sakit daripada gigitan nyamuk. Tak butuh waktu lama untuk kami memutuskan segera meninggalkan Pantai Bama dan kembali ke hotel di Banyuwangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *