Saat Senja Pulau Merah Memerah

“Tujuan berikutnya adalah Pulau Merah,” ucap Jujuk, teman saya yang merangkap menjadi ketua EO trip kami kali ini. Mendengar kata Pulau Merah, pikiran saya langsung mengarah pada Pink Beach di Lombok yang dinamai dikarenakan pasirnya yang berwarna merah muda. Mungkinkan Pulau Merah juga dinamakan karena warna tanah pulaunya yang berwarna merah? Atau karena warna daun pohon-pohonnya? Sengaja saya tidak mencari informasi apapun mengenai Pulau Merah agar rasa penasaran ini tidak hilang. Lagi pula saat itu saya tidak mendapatkan signal telepon sama sekali saat berada di kawasan Gunung Ijen.

Perjalanan dari Kawah Ijen Banyuwangi menuju Pulau Merah memang cukup lama. Beberapa kali kami berhenti untuk meluruskan kaki dan tulang punggung yang terpasung di dalam mobil. Badan kami belum sepenuhnya pulih setelah naik Kawah Ijen paginya, tapi perjalanan kami tetap tidak bisa ditunda. Apalagi pesona Pulau Merah Banyuwangi memang tidak bisa dikesampingkan. Karena alasan itulah Jujuk memasukkan Pulau Merah dalam daftar wisata Banyuwangi yang wajib kami kunjungi.

Kakak beradik sedang menonton matahari tenggelam di barat. Tanpa sengaja mereka menggunakan bahasa tubuh yang sama. (dok.pri.)

Sekitar pukul lima sore kami tiba di sebuah pantai dengan pasir putih lembut yang menghampar sejauh mata memandang. Sepoi-sepoi angin laut menyambut kami dan mengendurkan otot-otot yang tegang setelah perjalanan panjang. Di ufuk barat, awan mendung abu-abu pekat memenuhi langit seakan siap untuk menumpahkan hujan. Tidak jauh dari pantai, berdiri sebuah pulau kecil berbentuk kerucut seperti tumpeng dengan pohon hijau lebat mengelilinginya. Selanjutnya saya baru tau bahwa pulau kecil itulah yang dinamakan Pulau Merah, namun saya masih tidak paham alasan pemberian nama tersebut karena kami tidak bisa mendekat ke pulau tersebut.

Setelah memasukkan barang-barang yang diperlukan ke dalam tas, kami berpencar. Masing-masing dari kami mempunyai cara tersendiri menikmati pemandangan pantai Pulau Merah atau yang dulu dikenal dengan sebutan Pantai Ringin Pitu. Saya memilih untuk berjalan ke sebelah kiri pantai menuju bagian pantai yang paling dekat dengan pulau kerucut tersebut. Sembari berjalan, saya menyiapkan kamera bersiap untuk mengambil gambar.

Ombak yang tidak besar membuat anak-anak bebas bermain air
Ombak yang tidak besar membuat anak-anak bebas bermain air (dok.pri)

Suasana Pantai Pulau Merah cukup ramai sore itu. Di bibir pantai, anak-anak asik bermain air dan berlarian saat ombak datang dan pergi, sedangkan orang tua mereka mengawasi dari kursi santai yang disewakan sambil menikmati pemandangan dan menghabiskan bekal yang mereka bawa. Ombak yang relatif kecil membuat orang tua merasa aman membiarkan anak-anaknya bermain air sendiri. Dan kabar yang saya dapat banyak orang juga suka surfing di sini karena ombaknya yang bagus.

“Sepuluh menit lagi matahari akan terbenam,” ucap sebuah suara mengejutkan saya yang ketika itu sedang menyusuri pantai sambil memotret anak-anak yang sedang bermain air. Ini pertama kalinya saya mendengar ada penjaga pantai yang memberitahu pengunjung kapan sang surya akan kembali ke peraduan dari balik speaker. Padahal di ufuk barat mendung masih saja menggelanyut, tapi dia tetap saja optimis bahwa pengunjung tetap bisa menyaksikan sunset dari Pantai Pulau Merah.

Sepasang remaja yang sedang selfie dengan sunset sebagai latar (dok.pri)
Sepasang remaja yang sedang selfie dengan sunset sebagai latar (dok.pri)

Sepuluh menit berlalu, dan kini dari balik speaker terdengar hitungan mundur dimulai dari angka sepuluh seperti saat pergantian tahun. Dan benar saja, mentari mulai muncul setelah lama bersembunyi dari balik awan kelabu dan mulai meluncur turun ke peraduannya. Kini semua perhatian terpusat pada senja di barat dengan mentari sebagai aktor utama. Kamera-kamera mulai mengabadikan momen yang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi, saat senja Pulau Merah memerah. Menariknya, mentari tenggelam tepat di antara dua pulau kecil yang berada di ujung horison. Ia seolah-olah tau bagaimana cara menyenangkan para penonton setianya.

Awang sedang berpose menghadap senja Pulau Merah (dok.pri)
Awang sedang berpose menghadap senja Pulau Merah (dok.pri)

Begitu mentari menghilang, orang-orang mulai berkemas untuk pulang. Bagi mereka, melihat matahari terbenam adalah puncaknya, tapi tidak bagi kami. Di sebelah saya, Ucil bertanya pada saya mengenai warna pasir pantai yang saya pijak sekarang. Saya pun terkejut mengetahui bahwa warna pasir pantainya sekarang berubah agak kemerah-merahan. Ajaibnya lagi, langit senja yang tadinya keemasan kini memudar dan berganti menjadi kemerah-merahan. Dia pun lalu mengatakan kepada saya mungkin ini alasan kenapa tempat ini disebut Pulau Merah, pasir merah yang merupakan refleksi dari warna merah langit. Tak pelak kami tetap memotret senja hingga merah benar-benar hilang digantikan oleh hitamnya langit malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *