Menempa Keris di Padepokan Brojobuwono

Membakar bahan dasar keris

“Keris bukanlah sebuah senjata, tapi lebih sebagai simbol identitas,” ujar Pak Basuki, pemilik Museum Keris Brojobuwono, mengawali seminarnya di depan anak-anak SD yang mungkin baru pertama kali melihat keris. “Kalau pun kalian melihat keris digunakan sebagai senjata, itu hanya terjadi di film saja, atau mungkin ada kondisi yang membuatnya menjadi sebuah senjata,” tambahnya. Ah, ternyata yang saya yakini selama ini bahwa keris merupakan senjata tradisional adalah salah kaprah.

Keris digunakan sebagai simbol untuk memberitahu identitas pemiliknya. Hanya dengan melihat bentuknya saja, orang sudah tahu dari mana seseorang berasal. Karena memang setiap daerah memiliki bentuk keris yang berbeda-beda. Ada yang mempunyai keluk, atau berkelok-kelok, dan ada yang lurus seperti pedang. Untuk yang mempunyai keluk, jumlahnya harus ganjil karena nanti yang menggenapi adalah si empunya keris. Contoh lainnya, keris dari Bali memiliki ukuran yang cukup panjang dan bagian hulu atau pegangan keris biasanya mempunyai ukiran dewa-dewa. Lain lagi dengan keris dari Banten yang ukurannya lebih pendek dari pada keris dari Bali. Bagian hulunya biasanya mempunyai ukiran burung. Sedangkan keris dari Sumatra, ukurannya paling pendek jika dibandingkan dengan keris dari Jawa dan Bali.

Menempa besi yang masih membara
Menempa besi yang masih membara.

Keris juga melambangkan hubungan Lingga dan Yoni seperti yang biasa terdapat pada candi-candi Hindu Buddha yang ada di Indonesia. Kita bisa melihat hal ini di bagian pangkal keris. Lingga dan Yoni yang juga merupakan lambang dari alat vital pria dan wanita diartikan sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran. Pengaruh Hindu Buddha yang kuat yang sarat makna membuat lambang ini juga diaplikasikan dalam bentuk keris.

Mas Luki, guide kami menjelaskan kalau dibutuhkan waktu yang lama untuk menjadi seorang Mpu atau Empu. Mpu adalah sebuah gelar yang diberikan bagi pembuat keris. Awalnya mpu berarti seseorang yang ahli dibidangnya, namun seiring perkembangan jaman, maknanya mengerucut dan akhirnya hanya digunakan oleh pembuat keris saja. Tidak seperti gelar sarjana yang bisa didapatkan dalam waktu minimal 3,5 tahun atau kurang, untuk menjadi seorang mpu, seseorang harus belajar selama 20 tahun. Hal ini dikarenakan kalau seorang mpu tidak hanya harus belajar tentang dunia perkerisan, tapi juga banyak hal lainnya. Karena untuk membuat sebuah keris dibutuhkan pengetahuan yang tidak sedikit. Keris sebagai simbol identitas, karenanya tidak bisa dibuat secara sembarangan.

Pembuatan warangka atau sarung keris dari kayu
Pembuatan warangka atau sarung keris dari kayu

Di museum keris ini, atau yang lebih dikenal dengan nama Padepokan Brojobuwono, kita tak hanya bisa melihat koleksi keris dari berbagai tahun dan daerah. Di padepokan yang terletak di Solo pengunjung juga bisa melihat proses penempaan keris secara langsung. Hanya saja, proses itu tidak dilakukan setiap hari. Namun, kami cukup beruntung bisa proses penempaan keris. Mulai dari pembakaran besi, penempaan, pembersihan hingga pembuatan hulu dan sarung keris atau yang disebut warangka.

Tanduk rusa dan kerbau adalah bahan utama hulu keris
Tanduk rusa dan kerbau adalah bahan utama hulu keris.

Untuk membuat sebuah keris bukan lah perkara yang mudah. Pembuatannya disesuaikan dengan fungsinya, keris suvenir, ageman dan tayuhan. Keris suvenir yang digunakan sebagai cinderamata biasanya bisa diselesaikan hanya dalam waktu 1 bulan. Sedangkan keris ageman yang untuk dipakai, diselesaikan dalam jangka waktu 1-6 bulan. Keris tayuhan membutuhkan waktu paling lama hingga 1 tahun. Bahkan ada yang sampai 7 tahun. Sayangnya Pak Basuki tak memperlihatkan kepada kami wujud dari keris tersebut. Keris tayuhan membutuhkan waktu yang panjang dalam penempaanya karena fungsinya yang lebih serius dibanding 2 keris sebelumnya. Keris ini menjadi sebuah simbol tanggung jawab pemiliknya atas profesi yang dilakoninya. Pak Basuki bahkan bercerita kalau beliau juga sempat membuatkan keris untuk beberapa presiden Indonesia, termasuk Presiden Jokowi.

Tak hanya proses pembuatannya yang memakan waktu, keris juga memiliki harga yang cukup variatif, tapi relatif mahal. Sebuah keris tayuhan yang murah bisa berkisar dalam hitungan ratusan juta. Yang paling mahal bisa saja dalam hitungan miliyar atau bahkan tidak ternilai dengan uang. Keris Siginje, contohnya. Keris milik Kasultanan Jambi ini berhiaskan berlian. Ada sebanyak 16 berlian yang menjadi penghias keris tersebut dan 1 berlian berharga sekitar 1000 sapi. Coba saja hitung sendiri berapa rupiah jadinya!

Keris Ki Naga Minulya yang dibuat dari Lahar Gunung Merapi
Keris Ki Naga Minulya yang dibuat dari Lahar Gunung Merapi.

Saat sedang melihat-lihat koleksi keris di Padepokan Brojobuwono ini, sudut mata saya melihat sebuah keris yang dipajang di luar teritarium atau kotak kaca. Sebuah keris melekat di dinding dan hanya dipajang sendirian. Keris berwarna kuning keemasan tersebut bernama Ki Naga Minulya. Keris ini “lahir” dari Lahar Gunung Merapi. Batu-batuan kecil berwarna merah muda yang mirip batu akik menjadi penghias bagian sarung dan hulu keris. Di bawahnya juga terdapat sertifikat yang memberikan keterangan tentang keris tersebut termasuk kandungan logam di dalamnya. Lahar dipilih sebagai bahan pembuatan keris karena kandungan logam di dalamnya yang sangat padat. Seperti halnya para Mpu jaman dahulu yang menggunakan batu meteor sebagai bahan utama keris. Hal itu juga lah yang membuat harga sebuah keris menjadi mahal. Bahannya yang sangat susah dicari.

Pasir besi yang diambil dari berbagai pantai di Indonesia sebagai bahan baku keris
Pasir besi yang diambil dari berbagai pantai di Indonesia sebagai bahan baku keris.

Mendengar semua penjelasan tentang keris, saya jadi merasa diajak ke jaman kerajaan di Indonesia. Apalagi para guide di Padepokan Brojobuwono ini mengenakan kain putih tanpa jahitan seperti layaknya seorang Mpu pada masa lalu. Kain putih menjadi pakaian wajib orang-orang di Padepokan Brojobuwono ini saat sedang menempa keris. Mungkin filosofinya adalah seorang Mpu harus memiliki hati yang bersih saat menempa sebuah keris.

Di sini kami diajarkan bahwa sebuah proses diperlukan untuk membuat sesuatu yang tampaknya tidak indah menjadi indah. Proses tersebut tak selalu indah, kadang-kadang menyakitkan. Seperti sebuah logam yang harus dibakar hingga 1500 derajat celcius, menerima ribuan pukulan sampai direndam di air belerang hingga akhirnya menjadi sebuah keris yang bernilai tinggi.

Petualangan kami diakhiri dengan pertanyaan salah seorang murid, “Pak Basuki, saya boleh minta kerisnya? Dua ya!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *