Pantai Kelayar dalam Ingatan

Pantai Kelayar
Perasaan senang membuncah dan senyum mengembang ketika kami melihat segaris warna laut biru tua berbatasan dengan warna langit biru muda di ujung cakrawala. Dua warna yang hampir sama beradu namun tetap tak melewati batas. Di ujung sana merupakan tempat tujuan kami. Tempat di mana kami akhirnya bebas menghirup udara segar dan menikmati hembusan angin laut setelah terkurung selama beberapa jam di dalam kotak besi beroda empat.
Pantai kelayar

Setelah menuruni jalanan yang sempit dan sedikit curam, kami jadi semakin bersemangat. Pasir putih membentang di depan kami seperti sebuah karpet yang sudah disiapkan untuk menyambut tamu. Kaki-kaki kami seperti kegirangan merasakan butiran pasir di sela-sela jari kaki setelah terhimpit dan pengap selama perjalanan. “Akhirnya sampai juga di Pantai Kelayar,” ucap salah seorang teman dalam suara yang letih tapi lega.

Pantai Kelayar merupakan sebuah pantai yang terletak di Desa Kalak, Pacitan, Jawa Timur. Tempat ini masih sepi saat kami tiba. Petunjuk jalan yang masih sedikit memaksa kami untuk sering berhenti dan bertanya. Akses jalannya sudah bagus, hanya saja hanya muat untuk satu mobil dan sebuah motor. Selain sepi, Pantai Kelayar juga masih alami. Kami benar-benar merasa seperti sedang bertualang di daerah antah berantah karena listrik dan signal telepon tak menjamah tempat ini. Alhasil telepon genggam kami berubah fungsi menjadi senter dan pemutar lagu.

Kelayar terlihat memesona dengan pasir putih dan batuan karangnya. Garis pantainya cukup panjang, sehingga kami memutuskan untuk menjelajahinya. Lagian kami tak mungkin bisa berenang karena ombak yang cukup besar. Selama menyusuri pantai, kami menemukan sebuah aliran sungai air tawar yang membelah pasir menuju ke pemberhentian terakhir, laut.

Squirting rock

Hal yang menjadi daya tarik Pantai Kelayar selain tempat yang sepi adalah Squirting Rock. Teman saya memanggilnya seperti itu karena di batu tersebut terdapat sebuah celah yang dari dalamnya menyemburkan air laut ke udara. Semburan itu terjadi apabila ombak besar menabrak batu karang di bagian sisi kiri. Air ombak masuk ke celah dari sisi kiri karang dan menyembur keluar ke atas. Kami tampak seperti anak kecil yang kegirangan saat air menyebur. Sorak sorai meluncur spontan dari mulut kami. Sejenak saja kami lupa dengan usia kami yang sudah di atas 2 dekade. Ah, tak mengapa, toh hanya ada kami saja di sana dan seorang pemandu.

menikmati deburan ombak

Sayangnya Pantai Kelayar bukanlah tempat yang tepat untuk melihat sunset. Sebuah bukit di sebelah barat menjadi penghalang sekaligus pembatas garis pantai. Namun, itu tak mengurangi keindahan tempat ini. Kami bersiap menyambut malam dengan mendirikan dua buah tenda di tanah lapang tak jauh dari pantai. Para pengunjung dan orang sekitar yang berjualan satu persatu meninggalkan Pantai Kelayar, termasuk pemandu yang tadi bersama kami. Akhirnya hanya kami yang tertinggal di sana.

deburan ombak

Ternyata menikmati malam di Kelayar adalah keputusan yang tepat. Jutaan bintang berpijar menghiasi malam bak kelap kelip lampu hiasan pohon natal. Sebuah pemandangan yang tak mungkin kami dapatkan ketika di kota. Di mana lampu-lampu menjadi penghalang pijarnya bintang malam. Tak semua keindahan harus diabadikan dalam bentuk foto. Kami memutuskan untuk menikmatinya, mengabadikannya dalam ingatan. Hanya saja ini adalah cerita saya tentang Pantai Kelayar beberapa tahun yang lalu. Saat tempat ini masih sepi dan bersih dari sampah. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Masihkah sama? Tentu saja berbeda. Masihkah bersih? Semoga! 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *