Mainan Tradisional, Nasibmu Kini

Gangsing - www.ardiannugroho.com
Gangsing

Masih ingat dengan mainan tradisional di atas? Masih ingat juga kapan terakhir kali memainkannya? Saya sendiri sudah lama tidak memainkan mainan tradisional yang disebut gangsing tersebut. Padahal gangsing adalah salah satu mainan yang kerap saya mainkan sewaktu kecil. Dan setelah bertahun-tahun tidak memainkannya, barulah kemarin pagi saya memainkannya lagi. Usia yang sudah bukan bocah lagi tak lantas membuat saya tidak memainkan mainan tradisional. Malahan, saya ingin mempunyai koleksi mainan tradisional Indonesia.
 
Semua bermula ketika kemarin pagi saya bertemu dengan dua orang penjual mainan tradisional yang dibuat dari bambu seperti gasing, seruling bambu hingga alat tiup yang menghasilkan suara seperti kicau burung. “Gangsinge sedoso, mas,” jawab bapak tersebut ketika saya tanya harga gangsingnya. “Sing ageng gangsal welas,” tambahnya. Gangsing yang kecil dihargai sepuluh ribu dan yang besar lima belas ribu begitu kata bapak tersebut. Selanjutnya bapak tersebut menunjukkan kepada saya cara memutar gasingnya. Bunyi wunngg lembut dan sedikit ngebass mengalun dari gangsing saat sedang berputar. Ada sebuah perasaan senang dan tenang menjalar ketika mendengarnya. Saya sendiri baru bisa membuat gangsing mengeluarkan bunyi setelah mencobanya berkali-kali. Bunyi inilah yang membedakannya dengan gangsing masa kini yang lebih dikenal dengan sebutan bey blade. Selain menjual mainan tradisional dari bambu, bapak tersebut juga menjual akar wangi yang berfungsi untuk mengusir kecoa di rumah.

mainan tradisional - www.ardiannugroho.com
Penjual mainan tradisional sedang memainkan salah satu mainan yang dijualannya.

Permainan tradisional kini sudah mulai sulit ditemui bahkan untuk di Kota Salatiga yang notabene sebuah kota yang kecil dan kelihatannya belum terlalu terbawa arus modernisasi.  Beruntung masih ada yang membuat dan menjual mainan tradisional seperti dua orang berasal dari Wonosari Gunung Kidul, Yogyakarta ini. Tanpa kenal lelah mereka memasarkan dagangannya hingga ke Salatiga. Mereka bahkan rela tidur diemper toko dan hanya akan pulang ketika dagangannya habis. Padahal cuaca Salatiga sangat dingin pada malam hari selama beberapa hari terakhir. Semua itu dilakukan untuk mengais rejeki dan juga mengenalkan mainan tradisional Indonesia kepada anak-anak jaman sekarang.

Berbagai macam mainan tradisional dari bambu - www.ardiannugroho.com
Berbagai macam mainan tradisional yang terbuat dari bambu

Saya jadi ingat dengan perbincangan di warung kopi beberapa hari sebelumnya dengan beberapa teman. Di situ kami bercerita  mengenai mainan tradisional yang sering kami mainkan sewaktu kecil. Kami memang tidak tumbuh di lingkungan yang sama, tapi ternyata sebagian besar permainan kami sama. Kalau dihitung-hitung mungkin ada ratusan permainan yang kami mainkan sewaktu kecil. Bahkan, permainan yang kami mainkan menggunakan barang yang sangat sederhana, sebuah ban bekas misalnya yang bisa digelindingkan di jalan dan dibawa memutari kampung dengan hanya bermodal sebilah bambu atau kayu di tangan. Atau sebuah batang daun ketela yang bisa dibuat kincir, lalu dengan pongahnya berjalan sambil memutar batang daun ketela di jari. Tanpa sadar ternyata sewaktu kecil kita semua begitu kreatif menciptakan permainan baru dari barang sederhana yang ada disekitar kita.

perahu otok-otok - www.ardiannugroho.com
Seorang anak yang sedang melihat mainan perahu otok-otok

Nyatanya permainan tradisional tidak hanya untuk bermain, tapi juga bisa digunakan sebagai media belajar. Congklak atau Dakon adalah salah satunya. Congklak atau Dakon adalah permainan yang terbuat dari kayu atau plastik (yang sudah modern) dengan lubang kecil berjajar memajang di kanan dan kiri dengan sebuah lubang besar di kedua ujungnya. Selanjutnya nantinya lubang-lubang itu diisi dengan kecik atau biji. Permainan tradisional ini sudah dimainkan sejak jaman kerajaan dan masih dimainkan sampai sekarang. Dari permainan ini, anak-anak bisa belajar berhitung dan belajar mengatur strategi supaya menang. Ada juga permainan Bekel yang menggunakan sebuah bola kecil dengan enam biji. Bekel lebih sering dimainkan oleh anak-anak perempuan, tapi sebenarnya bisa dimainkan siapa saja. Permainan ini sangat bagus untuk melatih fungsi motorik anak-anak karena harus melempar bola ke udara, lalu menata biji di lantai dan kembali menangkap bola yang dilemparkan tadi.

Bekel - www.ardiannugroho.com
Bermain Bekel bisa mengembangkan sensor motorik anak.
Namun, sayangnya permainan tradisional itu sekarang sudah mulai terpinggirkan. Era modern ini membuat permainan dibuat dalam bentuk digital dan kebanyakan dimainkan secara individual, kalau pun dengan teman palingan ya teman virtual. Dampaknya banyak anak yang tidak bisa bergaul selain dengan teman virtualnya. Keponakan saya sendiri contohnya. Kadang-kadang saya harus “mengusirnya” atau menyembunyikan gawainya hanya agar dia mau bermain di luar rumah. Saya sendiri lebih senang melihat keponakan saya pulang dengan baju lusuh penuh keringat dan kulit yang terbakar matahari, (dan mungkin sedikit lecet karena jatuh atau menangis karena berkelahi) daripada seharian meringkuk di depan gawainya. Dengan begitu dia bisa bermain, bersenang-senang dengan teman-temannya dan juga belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *