Canda Tawa di Atas Rel Kereta

sunrise
Menanti sang surya

Halimun sedang mendominasi pagi ketika saya sedang menunggu kemunculan mentari bersama teman saya, Thole, di atas sebuah rel kereta yang usianya lebih tua dari umur kakek saya. Sebuah rel kereta yang di masa penjajahan Belanda menjadi sebuah transportasi utama untuk bepergian dan mengangkut barang. Rel kereta itu terletak di antara sawah dengan pemandangan rawa, bukit-bukit dan gunung. Bisa dibayangkan bagaimana nikmatnya berada di kereta dengan pemandangan seperti itu. Alasan yang sama membuat tempat ini menjadi salah satu tempat favorit saya untuk menikmati kemunculan mentari pagi dari cakrawala timur. Tidak banyak orang di sini selain petani dan pemancing. Itu pun hanya satu dua orang yang terlihat. Tempat ini begitu tenang. Hanya kicauan burung, kodok dan binatang-binatang kecil lainnya yang terdengar di sini. Deru mesin dari jalanan di belakang sudah mulai pudar menghilang tak terdengar di tempat saya duduk.

Tak jauh dari tempat kami berada, saya melihat seorang petani yang sedang menata batang enceng gondok di samping rel kereta. Batang batang enceng gondok tersebut dijajar rapi dan dibiarkan mengering terkena sengatan cahaya mentari. Darinya saya tau bahwa enceng gondok tersebut akan selanjutnya dianyam sebelum dijual ke tengkulak dengan harga enam ribu lima ratus untuk satu kilo. Lebih mahal daripada dijual tanpa dianyam yang hanya dihargai empat ribu lima ratus per kilo.

Petani sedang menata rapi batang encek gondok
Petani sedang menata rapi batang encek gondok

Kami sedang berbincang mengenai harga batang enceng gondok kering ketika saya mendengar suara ribut anak-anak di belakang. Seketika saya menengok ke arah suara berasal. Namun saya tak bisa melihat apa yang terjadi karena halimun masih menghalangi pandangan saya.

Saya menunggu sambil sesekali mengarahkan kamera ke garis cakrawala berusaha menangkap keelokan sang surya dalam gambar. Langit ufuk timur seketika memerah ketika mentari mulai keluar dari sarangnya. Ah, sayangnya kami sedang puasa, kalau tidak pasti sudah ada kopi yang menemani kami di sini dan membuat suasana semakin syahdu.

Anak-anak bermain kereta di atas rel kereta
Salah satu anak berpose di gerobak di atas rel kereta

Halimun mulai tersibak, terusir oleh kehangatan yang dibawa sang mentari. Perlahan terlihat apa yang dilakukan anak-anak tadi sehingga suaranya meredam suara para binatang. Dari tempat kami berdiri terlihat mereka sedang asyik bermain di atas rel kereta. Salah satu anak tampak mendorong sebuah gerobak yang di tempatkan di atas rel sedang yang lainnya tampak menikmati duduk di atas kereta.

Tak tampak rasa lelah di muka bocah yang bertugas mendorong kereta. Yang ada hanya rasa gembira yang tampak dari mimik muka mereka. Para bocah yang duduk di atas gerobak sesekali memberi semangat untuk mendorong lebih cepat. Tak ingin ketinggalan, saya pun memutuskan untuk ikut naik di atas kereta bersama mereka. Keceriaan yang mereka bawa membuat saya sejenak lupa dengan umur saya. Ah, tak apalah, tak setiap hari pula saya bisa bermain dengan mereka.

Senyuman menghiasi wajah polos anak-anak yang bermain di atas rel kereta
Senyuman menghiasi wajah polos anak-anak yang bermain di atas rel kereta

Bermain memang sudah menjadi sifat bawaan anak-anak. Mereka bisa bermain di mana pun dan di kapan pun, bahkan di tempat yang mungkin bagi orang dewasa bukan tempat bermain. Seolah-olah dalam pandangan mereka semua tempat merupakan arena bermain. Belum lagi tenaga mereka yang tak pernah habis selama bermain seperti mainan robot bertenaga surya. Canda, tawa hingga tangis selalu menjadi warna dalam permainan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *