Menelisik Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Tengah

Kalau dikunjungan sebelumnya saya numpang salat Subuh di Masjid Agung Jawa Tengah dan mendapat hadiah sunrise yang luar biasa, kemarin saya bermaksud ingin salat Duhur saja dan bonusnya saya bisa masuk ke dalam Tower Al Husna. Sebelumnya setiap kali saya ke sini, tower ini selalu saja tertutup rapat, antara saya datang kepagian atau terlalu malam. Tower Al Husna memiliki tinggi 99 meter yang melambangkan 99 asmaa’ul husna atau nama-nama baik Allah. Melalui tower ini, kita bisa melihat pemandangan Kota Semarang dari atas. Selain itu, di lantai dua dan tiga tower ini terdapat Museum Perkembangan Islam di Jawa Tengah.

Untuk bisa menikmati pemandangan Kota Semarang dari lantai tertinggi Tower Al Husna, pengunjung wajib membayar tiket sebesar Rp 7.000 yang terletak di sebelah kanan lift. Tiket tersebut sudah termasuk kunjungan ke dalam museum. Awalnya pengunjung akan diantar ke lantai 19 menggunakan lift. Baru lah setelah sampai di atas, pengunjung bisa menikmati suasana Kota Semarang. Dari atas, Kota Semarang tampak seperti miniatur. Rumah-rumah dan kendaraan yang berlalu lalang tampak kecil. Beberapa teropong diletakkan di sini dengan maksud pengunjung bisa melihat daerah yang lebih jauh. Sayangnya saat itu teropong-teropong tersebut tidak bisa digunakan karena sedang rusak. Oya, saya sarankan kalian mengunjungi tower ini sekitar jam 5 sore supaya bisa melihat sunrise dari tower.

Penampakan Masjid Agung Jawa Tengah dari Tower Al Husna

Selesai menikmati pemandangan dari lantai 19, saya langsung turun ke lantai tiga untuk mengunjungi Museum Perkembangan Islam di Jawa Tengah. Awalnya saya berpikir untuk mampir melihat resto di lantai 18, tapi petugas di dalam lift mengatakan bahwa kontrak resto di lantai 18 sudah habis dan saat ini di lantai tersebut hanya lah sebuah ruangan kosong. Sayang sekali padahal perut ini sudah keroncongan dari pagi. Untunglah saya masih membawa beberapa kerat roti sebagai pengganjal perut.

Tiba di lantai tiga, saya langsung disambut oleh petugas museum yang mempersilahkan saya untuk masuk dan melihat-lihat isi museum. Saat memasuki museum mata saya tidak bisa melihat untuk beberapa detik karena kondisi penerangan museum yang gelap. Saya heran kenapa kebanyakan museum tidak memiliki penerangan yang bagus? Apakah mungkin lampu yang terang akan merusak benda-benda yang berada di dalam museum yang sebagian besar memang sudah tua dan rapuh? Alhasil beberapa pengunjung memilih untuk langsung turun ke lantai satu karena takut dengan kegelapan di dalam museum.

Kota Semarang tampak seperti miniatur dilihat dari Tower Al Husna

Islam merupakan agama mayoritas penduduk Jawa Tengah. Beberapa sumber mengatakan kalau Islam masuk ke Jawa Tengah karena dibawa oleh pedagang Gujarat pada abad ke 14 M, tapi sumber yang lain mengatakan bahwa Islam dibawa oleh para Wali Songo. Terlepas dari perdebatan siapa yang membawa Islam, nyatanya para pendakwah telah sukses menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, khususnya Jawa Tengah yang sebenarnya pada masa itu masih didominasi oleh Kerajaan Hindu Buddha.

Al Qur’an dengan terjemahan Bahasa Belanda

Seperti normalnya sebuah museum, di dalam museum ini terdapat banyak sekali peninggalan-peninggalan pada masa syiar agama Islam di Jawa Tengah. Berbagai macam kitab tafsir mulai dari Tafsir Jawa, Tafsir Al-Baghowy, Tafsir Jalalin dipajang di dalam museum ini. Ada juga Al-Quran yang ditulis dengan tangan dan terjemahannya dalam Bahasa Belanda, Inggris, dan Persia. Selain kitab-kitab, di dalam museum ini juga terdapat sebuah Naskah Babad Jawi lan Arab yang ditulis oleh Mah Isah atas pesanan Ben Cik Nyat pada tahun 1881. Naskah ini ditulis dalam bahasa Jawa dan Arab dan berisi ramalan akan hadirnya Nabi Muhammad dan Amir Hamzah. Naskah Babad Jawi lan Arab ini tersimpan rapi di balik kotak kaca, hanya saja kertasnya sudah mulai berwarna cokelat karena umurnya yang sudah tua.

Warak-Warak Ngendog, maskot dugderan untuk menyambut bulan Ramadhan

Ada sebuah benda lucu dan warna-warni yang menarik perhatian saya. Benda tersebut mirip sebuah pinata, sebuah boneka berisi permen yang biasa digantung di acara ulang tahun anak-anak dan selanjutnya anak-anak akan mencoba memukulnya dengan mata tertutup. Benda mirip pinata tersebut bernama Warak-Warak Ngendog. Nama Warak berasal dari kata Arab, Wara’i yang berarti mencegah. Sedangkan Ngendong merupakan kata dalam bahasa Jawa yang berarti bertelur. Ternyata Warak-Warak Ngendog ini adalah sebuah binatang rekaan yang digunakan sebagai sebuah maskot dugderan untuk menyambut Bulan Ramadhan. Perayaan ini sudah dilakukan sejak tahun 1871 ketika Semarang berada dibawah pemerintahan Kanjeng Adipadti Aryo Purboningrat. Telur dari Warak Ngendog ini diibaratkan sebagai pahala orang yang berpuasa. Sayangnya saat saya ke sana waraknya tidak sedang bertelur.

Seperangkat gamelan yang digunakan untuk syiar agama Islam

Di dalam museum ini juga terdapat seperangkat gamelan dan wayang. Pada masa itu para Wali Songo menggunakan musik dan wayang sebagai salah satu media dakwahnya. Cara ini terbukti ampuh karena bisa menyentuh masyarakat Jawa dari berbagai kalangan. Wayang yang disimpan di sini adalah Wayang Sadat dan Wayang Golek Menak. Wayang Sadat diciptakan oleh Dalang Ki Sunardi Wiracarita dari Desa Trucuk, Klaten pada tahun 1991. Tokoh-tokoh yang biasa ditampilkan adalah Sunan Giri, Sunan Raden Patah, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dll. Sedangkan Wayang Golek Menak diadopsi dari Kitab Qisay Amir Hamzah yang menceritakan kisah Amir Hamzah dari Bagdad. Wayang-wayang tersebut dipentaskan pada masa pemerintahan Sri Mangkunegara VII.

Keris-keris yang digunakan sebagai senjata tradisional masyarakat Jawa Tengah

Museum ini juga menyimpan Prasasti Karang Kebagusan yang di atasnya diukir kalimat syahadat. Selain itu ada juga Prasasti Balamoa yang ditulis menggunakan aksara Jawa dan Melayu. Berbagai macam keris dan sebuah pedang yang besar dan panjang juga tak luput dipajang di dalam museum ini.

Naskah Babad Jawi

Saat keluar dari museum ini saya melihat seorang penjaga museum yang tertidur di mejanya. Mbak penjaga itu terlihat pulas sekali dalam tidurnya. Mungkin dia mengantuk karena kondisi museum yang remang-remang ini atau capek menunggu museum yang sepi pengunjung. Saya pun keluar museum dengan berjingkat agar tidak membangunkan tidurnya dan lagi perut ini sudah meminta untuk diisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *