Gunung Prau, Sensasi Negeri di Atas Awan

Merah merekah menandakan Raja Pagi akan muncul

Memang tidak berlebihan apabila Dieng Plateu mendapat julukan sebagai “Negeri di Atas Awan.” Posisinya yang tinggi, 2000 mdpl, membuat Dieng memiliki suhu dingin, sekitar 12-20 derajat C pada siang hari dan 6-10 derajat C pada malam hari. Bahkan kadang hampir mendekati 0 derajat saat dini hari. Maka tak heran saya menggigil hebat ketika sampai di Balai Desa Patak Banteng pada pukul setengah dua pagi. Pakaian yang rapat dan tebal tak serta merta membuat tubuh menjadi hangat. Akhirnya saya merapat di depan sebuah anglo dengan bara menyala di atasnya bersama penduduk lokal yang menjaga motor sekaligus menjadi juru parkir agar badan kembali hangat.

Semburat kuning di sepanjang garis cakrawala

Di sebelah saya, tim Mahesapala STIE AMA Salatiga, Thole, Arif, Husein dan Wakid, sedang asik memasak air untuk membuat kopi dan mie instan saat seorang tukang parkir berkata, “Hari ini ada lebih dari dua ribu orang yang naik, mas.” Kami sedikit terperanjat ketika mendengarnya. Tak mengira bahwa malam ini akan ramai sekali. Memang kami melihat ada ratusan motor yang diparkir di halaman Balai Desa. Hanya saja angka dua ribu sangat fantastis untuk jumlah pendaki Gunung Prau hari itu. Langsung saja saya teringat keramaian puncak Gunung Andong saat saya mengejar sunrise beberapa waktu lalu. Kala itu ratusan tenda berwarna-warni berjejalan menghiasi puncak Andong.

Thole, salah satu tim Mahesapala STIE AMA
Thole, salah satu tim Mahesapala STIE AMA

Gunung Prau memiliki ketinggian 2565 mdpl, sedikit lebih tinggi dari Gunung Andong yang hanya 1726 mdpl. Dengan ketinggian seperti itu, pendakian Gunung Prau bisa ditempuh selama 2-3 jam dari jalur Patak Banteng. Sebelum mendaki, sempatkan dulu pergi ke Basecamp untuk membeli tiket seharga sepuluh ribu rupiah. Kalau tidak, maka nanti harus membayar tiket sebesar lima belas ribu rupiah di tempat pemeriksaan tiket seperti yang kami alami. Sebenarnya bukannya kami tidak mau membayar di Basecamp, hanya saja kami tidak tahu harus membayar tiket terlebih dahulu. Bahkan para juru parkir yang kami temui tidak berbicara apa pun soal tiket naik gunung, hanya tiket parkir saja. Maka dengan terpaksa kami membayar tiket masuk seharga lima belas ribu perorang karena terlalu capek kalau harus kembali ke Basecamp.

Peta pendakian Gunung Prau dan denda atas pelanggaran yang dilakukan.

Jalur pendakian Gunung Prau bisa dibilang mengasyikan dan cukup menantang. Sejak dari Basecamp kami sudah dihadapkan dengan jalanan yang menanjak. Di sini, jalannya berupa tangga yang sudah di semen, tapi hanya sampai di rumah terakhir. Setelah itu jalur berubah menjadi tanah dan bebatuan. Walaupun berupa tanah, jalur pendakian sudah dibuat seperti tangga dengan bambu sebagai penyokong agar tanah tidak erosi saat terkena air hujan. Namun, tetap saja harus hati-hati karena banyak pendaki yang terpeleset saat menginjak bambu tersebut dan tak jarang juga ada yang terjerembab di lumpur.

Bukit Teletubies mengintip di balik lautan awan

Pendakian tak terasa membosankan karena pemandangan yang disajikan benar-benar menawan. Di kanan dan kiri terlihat pertanian masyarakat sekitar yang berada di lereng yang curam menggunakan sistem terasiring. Sayuran seperti kentang menjadi salah satu tanaman yang biasa dijumpai selama perjalanan.

Jalur pendakian yang sudah dibuat berundak menggunakan bambu

Sepanjang pendakian sampai pos satu, saya menjumpai beberapa warung yang menjual makanan dan minuman. Dari beberapa warung yang saya lewati, ternyata ada satu warung yang masih buka, padahal saat itu pukul tiga dini hari. Para pemilik warung memang pandai membaca situasi. Sebagian besar pengunjung yang mampir adalah para pendaki yang kelelahan serta kedinginan. Mereka mampir sejenak untuk beristirahat dan juga segelas teh hangat sebelum meneruskan pendakian.

Gunung Sindoro dan Sumbing berselimut kabut

Kabut senantiasa datang dan pergi saat kami berada di Gunung Prau. Tak hanya dingin yang ditawarkan, namun juga keindahan. Saya terperangah dengan mulut sedikit menganga tatkala melihat kabut tebal di bawah menyelimuti daerah pemukiman warga. Lampu kerlap kerlip yang tadinya terlihat jelas kini diselimuti kabut putih. Cukup lama saya berdiri memandang ke bawah sambil membayangkan rasanya berpijak di atas kabut putih tersebut. Padahal saya baru sampai pos satu, masih ada dua pos lagi menuju puncak. Kalau pemandangan dari pos satu saja sudah seindah ini, bagaimana dengan pemandangan di puncak? Pasti luar biasa, begitu pikir saya.

Para pendaki menjejali sunrise camp

Dua setengah jam saya mendaki melewati jalanan yang cukup terjal di bawah naungan pohon-pohon tinggi untuk sampai di puncak. Udara yang dingin dan oksigen yang tipis membuat saya harus sering berhenti untuk mengatur nafas. Selain itu, tanahnya yang lembek dan berlumpur karena gerimis yang datang sebelumnya membuat jalur menjadi semakin licin. Sampai akhirnya saya tiba di camp sunrise. Di sini sudah tersebar ratusan tenda berwarna-warni menghiasi puncak Gunung Prau.

Cahaya kuning menjadi latar Gunung Sindoro dan Sumbing yang biru.

Rasa lelah, kedinginan dan kantuk yang mendera seakan hilang seketika tatkala melihat garis kuning dengan gradasi oranye di sepanjang horison. Sebuah pertanda jika sebentar lagi Raja Pagi akan menyapa. Saya duduk di rerumputan dalam diam sambil menikmati keindahan yang disajikan. Di depan saya terhampar bukit-bukit seperti dalam acara anak-anak, Teletubies. Kemiripannya dengan bukit di acara itulah yang membuat orang-orang menamainya Bukit Teletubies. Sedangkan di sebelah kanan saya berdiri dengan anggun dua gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Dari sisi lain bahkan terlihat Telaga Warna yang saat itu berwarna biru.

Telaga Warna dari kejauhan.

Semua orang sudah keluar dari tenda bermaksud menyapa Raja Pagi dari tidurnya. Semua sudah tak sabar termasuk saya untuk segera melihat sunrise pagi itu. Namun tampaknya Mentari terlalu pemalu untuk menunjukkan dirinya. Di saat kemunculannya kabut tiba-tiba naik menutupi dan akhirnya semua orang dibelakang saya berteriak kecewa.

Sunrise yang ditunggu tertutup kabut

Kabut yang naik tak benar benar merusak suasana. Kehadirannya malah membuat suasana menjadi semakin syahdu. Apalagi saya dihadapkan dengan pemandangan Bukit Teletubies, Gunung Sindoro dan Sumbing yang tampak seperti melayang  di atas awan saat sedang diselimuti kabut. Selama saya mendaki gunung, baru di Gunung Prau inilah saya merasakan sensasi di atas awan. Terbayar sudah semua kelelahan yang saya rasakan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *