Candi Sambisari, Candi yang Bangkit dari “Kubur”

Gunung Merapi mempunyai andil yang sangat besar dalam menyembunyikan candi-candi di sekitar Yogyakarta. Letusannya yang dahsyat dan muntahan materialnya yang banyak tidak sengaja mengubur budaya dan sejarah daerah yang dilaluinya. Banyak candi ditemukan terkubur di dalam tanah tertutup muntahan Gunung Merapi. Candi Sambisari adalah salah satunya. Candi ini ditemukan bulan Juli 1966 secara tidak sengaja oleh seorang petani yang sedang menggali di sebuah lapangan. Dari temuan itulah lantas diketahui kalau seluruh bangunan candi ini terkubur di dalam tanah.

Pada bulan September di tahun yang sama, 1966, penggalian dilakukan untuk mengeluarkan candi ini dari “kuburannya.” Sebuah usaha panjang yang sangat hebat saya rasa. Menggali kembali candi yang terkubur seakan menghidupkan kembali sejarah yang telah lama tersembunyi di dalam tanah. Sejarah dari candi tersebut selanjutnya akan menguak budaya masyarakat yang dulu pernah tinggal di sekitar candi. Angan saya melayang membayangkan bagaimana kehidupan di masa lalu di sekitar candi. Sebesar apa perbedaan kehidupan masyarakat jaman dahulu di sekitar candi dengan masyarakat sekitar candi yang sekarang? Ke mana masyarakat di sekitar candi pergi ketika tergusur oleh material Merapi yang akhirnya mengubur Candi Sambisari?

Batuan candi yang belum disusun

Tulisan besar “CANDI SAMBISARI” yang terbuat dari tumbuhan membentang di sisi kiri candi menjadi pembuka setelah membayar tiket masuk sebesar Rp2000. Kompleks candi ini terlihat segar karena rerumputan hijau yang menyelimuti layaknya sebuah karpet. Mata yang tadinya sayu, lelah karena menerjang hujan di sepanjang perjalanan menjadi segar kembali. Sejenak rasanya saya ingin tiduran dan berguling di atas rumput, tapi takut nanti disemprit oleh satpam yang berjaga. Kompleks Candi Sambisari yang baru booming dua tahun belakangan ini masih asri dan bersih. Pohon-pohon besar tampak rindang memayungi sudut-sudut kompleks candi. Saya bersyukur langit sedang mendung dan hujan baru saja reda ketika kami, saya dan Dian, sampai di tempat ini. Kalau tidak mendung, tentunya kami akan terpanggang matahari ketika mengelilingi candi karena kami tiba sekitar pukul 12 siang. Sebenarnya sih mau panas atau hujan, kami tetap bisa mengelilingi candi, toh kami bisa menyewa payung seharga Rp3000.

Taman di sekitar Candi Sambisari

Tak semua sejarah bisa diungkap secara detail dan tepat. Inilah bagian menarik dari mempelajari sejarah. Selalu saja ada bagian yang masih belum lengkap dan akhirnya menjadi teka teki yang menunggu untuk diungkap. Mengungkap sejarah seperti mencoba menyatukan kepingan puzzle yang tersebar, apalagi candi. Dibutuhkan kesabaran dan kerja keras untuk menemukan bagian candi yang hilang dan sering kali perlu waktu bertahun-tahun untuk menyusunnya. Bahkan tak jarang ada candi yang memang tidak bisa disusun karena puzzle-nya tidak lengkap. Sama seperti Candi Sambisari ini, candi ini tidak ditemukan dalam kondisi yang utuh. Dibutuhkan pemugaran selama 20 tahun hingga kembali berdiri tegak seperti sekarang ini. Itu pun hanya Candi Sambisarinya yang bisa dibangun kembali. Tiga perwara yang terletak di depan Candi Sambisari tidak bisa dibangun kembali karena banyak batuan asli yang telah hilang.

Tempat Arca Mahakala yang dicuri

Sempat terkubur sedalam 6,5 meter membuat letak candi ini lebih rendah dibanding daerah sekitarnya. Kami harus berjalan menuruni tangga untuk bisa mendekati candi utama yang bercorak Hindu ini. Terdapat empat tangga menurun dari empat penjuru candi yang mengarahkan kita langsung pada pintu masuk menuju lingkungan candi. Dari keempat pintu masuk itu, hanya tiga pintu yang dibuka, satu pintu lainnya ditutup menggunakan batu. Kami langsung pergi menuju ke dalam candi utama setelah melihat-lihat ketiga perwara yang masih belum berdiri sempurna. Saat mengitari candi, saya melihat ada tiga arca yang diletakkan di tiap sisi candi. Dari ketiga arca tersebut hanya satu yang bisa saya kenali, arca Ganesha. Di dalam bangunan candi terdapat sebuah Lingga dan Yoni yang mengatakan bahwa dulu candi ini digunakan untuk menyembah Dewa Siwa. Sebenarnya di dekat pintu masuk candi terdapat dua arca Mahakala. Sayangnya kedua Arca Mahakala tersebut hilang dicuri pada tahun 1971. Berbeda dengan candi-candi besar seperti Prambanan dan Borobudur, di dinding Candi Sambisari ini tidak terdapat relief yang menghiasi candi. Hanya ukiran berbentuk bunga seperti batik yang menghiasi batu-batu candi.

Arca Ganesha, satu dari tiga arca yang berada di dinding candi

Menyentuh batuan candi adalah bagian yang saya suka ketika mengelilingi sebuah candi. Menggunakan tangan, saya mencoba merasakan setiap lekukan ukiran yang dipahat secara manual. Biasanya sebuah perasaan menyenangkan akan datang saat tangan saya menyentuh permukaan batuan candi tersebut. Pikiran saya kembali berimajinasi membayangkan setiap tempaan yang diterima batuan-batuan ini agar terbentuk ukiran yang kini menghiasi. Kerja keras yang luar biasa besar untuk bisa menghasilkan dan juga menghidupkan kembali sebuah karya yang indah bernama Candi Sambisari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *