Harta Karun Kelenteng Sam Poo Kong Semarang

Sebuah harta karun kerap kali diletakkan tersembunyi dan jauh dari jangkauan orang. Susahnya pencarian dan nilai historis yang dibawanya membuat harta karun itu memiliki nilai yang mahal. Harta karun juga tak melulu berupa koin emas atau perak atau perhiasan intan berlian. Tak jarang bentuknya bisa sebuah pecahan porselen atau manuskrip kuno asal barang tersebut memiliki nilai historis yang bernilai atau mewakili suatu peradaban. Tak heran karena itulah banyak orang yang mengabadikan hidupnya mencari sebuah harta karun peninggalan suatu masa. Harta karun bisa berada di mana saja, termasuk di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang. Di sini lah saya menemukan sebuah harta karun peninggalan Laksamana Zheng He atau Cheng Ho.

Kelenteng yang juga dikenal dengan sebutan Gedung Batu ini tidak hanya terbatas untuk mereka yang ingin bersembahyang saja. Setiap orang bisa masuk ke dalam kompleks kelenteng yang juga difungsikan sebagai tempat wisata. Kelenteng ini cukup terkenal di kalangan warga asli Semarang dan warga keturunan Tiongkok yang tinggal di Semarang. Dikabarkan dalam sejarah bahwa ini lah tempat pendaratan pertama Laksamana Zeng He yang beragama Islam. Menariknya Laksamana Zheng He juga dipuja di sini.

Merah menjadi warna khas bangunan di Kelenteng Sam Poo Kong

Lingkungan Kelenteng Sam Poo Kong ini berhasil membius siapa pun yang datang berkunjung. Ketika berada di dalam, untuk sesaat saya merasa sedang berada di China. Klenteng Sam Poo Kong ini mempunyai halaman yang sangat luas. Di dalamnya terdapat sebuah taman dengan naungan pohon-pohon yang besar yang rindang. Pengunjung bisa duduk di kursi-kursi yang sudah disediakan sembari menikmati semilir angin mengusir panasnya udara Semarang. Di depan taman ada sebuah bangunan besar seperti aula dengan latar yang luas di depannya. Bangunan ini terpisah dan letaknya pun lebih tinggi dibanding bangunan lainnya. Ini adalah salah satu bangunan yang bisa dikunjungi. Beberapa bangunan lainnya tidak bisa dikunjungi dan hanya bisa dilihat dari luar karena fungsinya sebagai tempat peribadatan. Ada sebuah kolam ikan yang memanjang sebagai pembatasnya. Salah satu bangunan malah sengaja diberi pagar besi supaya tidak dimasuki pengunjung umum. Di sudut barat kelenteng ini berdiri sebuah patung besar setinggi kurang lebih 10 meter yang tak lain adalah patung figur dari Laksamana Zheng He sebagai Duta Perdamaian. Tak jauh dari patung Laksamana Zheng He, ada sebuah pintu besar berbentuk setengah lingkaran.

Pintu gerbang berbentuk setengah lingkaran
Patung Laksamana Zheng He atau Cheng Ho

Orang China percaya warna merah mempunyai arti nasib baik dan keberuntungan. Itu lah sebabnya warna merah selalu mendominasi dalam acara perayaan keagamaan atau budaya China. Dengan alasan yang sama, warna merah mendominasi Kelenteng Sam Poo Kong Semarang ini. Saat masuk ke dalam lingkungan kelenteng ini, saya merasakan arsitektur China sangat kental dari setiap bangunan yang berdiri. Tak lupa ornamen-ornamen khas China seperti lampion menggantung menghiasi pepohonan. Ular naga, simbol yang sangat berkaitan dengan budaya China juga dapat dijumpai di pintu masuk dan melingkar apik di tiang-tiang bangunan kelenteng. Ukiran ular naga ini hampir sama dengan ukiran yang saya lihat di Pagoda Avalokitesvara. Mereka percaya bahwa ular naga mempunyai makna “kekuatan” dan “kepemimpinan.”

Hall dengan ukiran ular naga melingkar di tiang-tiangnya

Sekilas bangunan ini tampak tak berbeda dengan kelenteng di tempat lain. Fungsinya pun juga sama, sebagai tempat bersembahyang plus tempat berziarah. Yang paling membedakannya dengan kelenteng lain hanya lah cerita dan nilai historisnya. Saat memasuki area kelenteng, sudut mata saya menangkap hal yang tidak biasa di dekat pintu masuk kelenteng. Di bangunan itu tertera sebuah tulisan ‘mushola’. Saya kaget saat melihat pemandangan yang cukup unik tersebut. Di sebuah kompleks persembahyangan umat Kong Hu Cu ini terdapat tempat untuk bersembahyang umat lain, umat Islam.

Bangunan utama untuk bersembahyang

 

Salah satu bangunan yang digunakan untuk sembahyang

Saya menemukan sebuah harta karun di Sam Poo Kong, begitulah yang saya pikirkan saat melihat mushola tersebut. Harta karun tersebut memang tidak berwujud dalam emas batangan atau perhiasan intan berlian, tapi sikap toleransi antar umat beragama. Saat banyak sekali aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama terjadi di belahan bumi ini, sebuah toleransi antar umat beragama sudah lama terwujud di salah satu sudut di Kota Semarang. Laksamana Zheng He yang dikenal sebagai Duta Perdamaian bukan hanya cerita isapan jempol saja. Nyatanya setelah beliau meninggal, semangat perdamaian yang dibawanya masih tetap diwujudkan hingga sekarang.

Mushola di dalam kompleks kelenteng

Saat saya menanyakan alasan kenapa dibangun sebuah mushola di dalam kompleks Kelenteng, tidak ada orang yang bisa menjelaskan. Beberapa dari mereka hanya menduga mungkin mushola itu didirikan untuk menghormati Laksamana Zheng He yang beragama Islam. Beberapa orang lain berpendapat mungkin agar para pengunjung muslim yang mampir tidak perlu bingung saat akan menunaikan salat. Jadi mereka bisa merasa nyaman saat berkunjung ke Kelenteng tanpa harus melupakan kewajiban beribadah. Apapun alasan itu, saya sebagai seorang muslim sangat berterimakasih dan menghargai sikap toleransi antar umat beragama yang berusaha dibangun. Semoga harta karun di Kelenteng Sam Poo Kong Semarang ini akan tetap lestari dan bahkan bisa diduplikasi di tempat lain.

Sunset dari Kelenteng Sam Poo Kong

2 Comments

  1. Musholanya itu jauh lebih dulu dari bangunan kelentengnya mas.. Saya masuk ke sana tahun 2008 ( sebelum dipugar) bangunan musholanya bercat putih dengan atap warna hitam. posisinya ada dibagian selatan. Dulu di depannya ada tulisan “MUSHOLA KYAI (fulan)”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *