Snorkeling di Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air

Saya sudah jatuh cinta dengan snorkeling sejak pertama kali saya mencobanya di Pantai Lovina, Bali tahun 2009. Mungkin karena saya memang suka berenang sejak kecil dan suka melihat ikan berenang, akhirnya saya mencintai snorkeling. Snorkeling di Pantai Lovina memang tidak begitu bagus. Banyak karang yang sudah rusak, tapi justru karena itu lah saya penasaran dengan karang dan keanekaragaman bawah air. Setelah itu, ke mana pun saya pergi, saya selalu mencoba mencari kesempatan untuk snorkeling seperti saat di Amed, Pulau Khai dan Krabi di Thailand dan juga Nusa lembongan.

Saya dan seorang teman memacu sepeda motor dari Pink Beach menuju Pelabuhan Bangsal. Butuh waktu selama kurang lebih 4 jam untuk sampai di pelabuhan. Kami cukup beruntung bisa mendapatkan kapal terakhir yang akan berangkat ke Gili Trawangan. Karena di Gili Trawangan tidak diperbolehkan mengendarai motor, terpaksa kami meninggalkan motor di penitipan dekat pelabuhan dan juga tidak ada kapal pengangkut motor menuju pulau tersebut. Kami hanya cukup membayar lima belas ribu untuk dua hari penitipan. Setelah itu, kami membeli tiket kapal menuju Gili Trawangan. Tiketnya cukup murah, hanya tiga belas ribu per orang. Kapal hanya akan berangkat saat penuh saja, jadi kalau kalian naik kapal murah ini ya harus menunggu. Beruntung karena kami adalah penumpang terakhir kapal tersebut, jadi kami langsung berangkat menuju Gili Trawangan. Usahakan sampai di pelabuhan ini sebelum jam 5 sore untuk bisa menggunakan jasa kapal yang murah meriah ini atau kalian akan terpaksa menginap di sini dan pergi esok harinya. Tapi kalau kalian punya uang, silakan menyewa kapal boat yang harganya bisa sepuluh kali lipat dari harga tiket kapal murah.

Gili Trawangan

Yang namanya kapal murah tentu saja punya kelemahan, yaitu jarak tempuhnya yang lama. Kami berada selama satu jam di atas kapal kayu yang berisi banyak penumpang dengan berbagai macam barang bawaan menuju Gili Trawangan. Indahnya lautan biru yang kami arungi seolah membius sehingga kami lupa dengan lamanya perjalanan. Tak berapa lama kami sudah melihat tiga gili (sebutan penduduk lokal untuk pulau) di depan kami, Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Rasanya tak sabar saya ingin segera snorkeling di Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Dari ketiga gili tersebut, hanya Gili Trawangan yang paling ramai dikunjungi. Kalau kalian lebih memilih tempat yang sepi, saya sarankan untuk pergi ke Gili Meno atau Gili Air.

Sesampainya di Gili Trawangan, kami langsung disambut oleh orang-orang yang menawarkan tempat untuk menginap. Kami mendapatkan tempat menginap dengan harga seratus dua puluh ribu satu malam. Harga yang tidak terlalu mahal mengingat saat itu adalah hari libur dan banyak tempat menginap yang sudah penuh. Jika ingin menginap di sini, kalian bisa memesan penginapan terlebih dulu lewat Agoda supaya lebih mudah. Begitu sampai di penginapan, kami langsung mencari informasi di mana bisa memesan tiket untuk snorkeling lewat pemilik penginapan. Ternyata, kami bisa langsung memesan tiket snorkeling langsung dengannya (cp: Pak Kobar: 0818-0370-0274). Harga tiket snorkeling di tiga gili sebesar seratus dua puluh ribu rupiah. Harga tersebut sudah termasuk makan siang di Gili Meno. Dia memberitahukan bahwa kami harus berkumpul jam tujuh pagi di tempat yang sudah ditentukan untuk mengambil fin dan snorkel yang akan digunakan.

Rombongan pertama menuju spot snorkeling

Paginya kami berada di tempat yang sudah ditunjukkan sebelumnya. Ternyata sudah banyak orang yang menunggu di sana. Tak hanya wisatawan lokal, wisatawan mancanegara pun juga banyak terlihat sedang menunggu giliran untuk mengambil fin dan snorkel. Mereka terlihat tidak sabar sembari bercengkrama sambil melumuri kulit mereka dengan sunblock supaya tidak terbakar saat snorkeling. Saya malah lupa membeli sunblock dan akhirnya cuma memakai lotion kulit biasa. Kecerobohan ini lah yang membuat saya mengalami luka bakar akibat sengatan mentari.

Gili Trawangan memang menjadi tujuan banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang ingin keluar dari hiruk pikuk kota besar. Tidak hanya kondisi alam pulaunya yang masih asri dengan pepohonan besar yang masih banyak dijumpai di pulau ini beserta kicuan burung yang sering terdengar, kondisi alam bawah lautnya juga telah memukau banyak orang. Tak ayal Gili Trawangan, Meno dan Air menjadi tujuan wisata bagi mereka yang ingin menyaksikan keanekaragaman bawah lautnya. Tak hanya itu, di pulau ini kita bisa merasakan udara yang masih segar dan tidak terkena polusi karena kendaraan bermotor dilarang berkeliaran di pulau kecil ini. Transportasi yang bisa digunakan hanya ada tiga pilihan, kaki kita sendiri, menyewa sepeda atau kereta kuda yang dikenal dengan nama cidomo.

Cidomo atau kereta kuda sebagai transportasi lokal

Saat persiapan sudah selesai, kami semua diajak menuju kapal yang akan membawa kami menuju spot snorkeling di Gili Trawangan sebagai pembuka. Kapal ini cukup besar untuk menampung rombongan yang berjumlah sekitar 20 orang. Di bagian tengah kapal ini ada sebuah kaca yang bisa digunakan untuk melihat ikan dan koral di bawah kapal. Sayangnya saya tidak cukup cepat untuk mendapat tempat di tengah. Alhasil saya duduk di bagian belakang kapal berdekatan dengan mesin. Selain bising, asap hitam yang keluar saat mesin dihidupkan juga membuat saya terbatuk-batuk. Duh!

Begitu sampai di tempat tujuan snorkeling, tanpa basa-basi kami langsung melompat ke dalam air. Bagi yang tidak bisa berenang, jangan kuatir karena sudah disediakan jaket pelampung. Oya, sewaktu berenang ingatlah untuk bernafas lewat mulut, bukan lewat hidung dan hembuskan udara dengan kuat supaya air laut tidak masuk ke selang pernafasan. Kami diberi waktu selama satu jam untuk snorkeling di area ini. Alam bawah laut Gili Trawangan cukup memukau saya. Ikan-ikan yang cantik dan berwarna-warni tampak berenang di sekitar terumbu karang yang ada di dasar lautan. Saya mencoba menyelam beberapa kali untuk bisa melihat keindahan terumbu karang dari dekat. Di saat yang bersamaan, terlihat sekawanan ikan yang berenang tidak jauh dari terumbu karang yang saya tuju. Mereka tampak seolah sedang berdansa secara bersama-sama, menari mengikuti irama air. Cahaya matahari yang membias masuk ke dalam air tampak seperti lampu-lampu di atas panggung. Ah, sungguh memesona.

Satu jam telah berlalu. Pemandu memanggil kami untuk kembali naik ke dalam kapal. Dia mengatakan bahwa kami akan pergi ke spot snorkeling yang ke dua, Gili Meno. Tempatnya tidak terlalu jauh dari Gili Trawangan. Kira-kira dibutuhkan waktu sekitar setengah jam. Di atas kapal sang pemandu memberi kami sebotol air minum untuk menghilangkan dahaga kami. Kami pun tak sabar untuk melihat keindahan bawah laut Gili Meno.

Snorkeling di Gili Meno

Seperti sebelumnya, kami semua langsung terjun ke dalam air begitu pemandu memberitahu bahwa kami sudah sampai. Keindahan bawah laut Gili Meno ternyata lebih bagus dibandingkan Gili Trawangan. Terumbu karangnya lebih banyak dan lebih beragam. Ikan-ikan pun juga lebih bervariasi dan berwarna-warni. Arus laut di Gili Meno lebih kuat daripada sebelumnya, tapi untungnya masih cukup nyaman untuk kami berenang. Di dalam Gili Meno pemandu kami memberikan roti untuk diberikan kepada ikan-ikan di laut. Yak, membawa roti memang salah satu agar ikan-ikan mendekati kita. Tidak perlu roti keju atau roti meses yang mahal, cukup roti tawar atau roti susu yang biasa saja. Saat saya membawa roti tersebut, sebentar saja saya sudah seperti artis yang dikerubuti penggemar. Puluhan ikan berenang di sekeliling saya tertarik dengan roti yang saya bawa. Begitu roti sudah habis, ikan-ikan langsung pergi menuju orang lain yang masih mempunyai roti di tangan mereka. Ah, itu lah akibatnya menjadi artis karbitan seperti saya. Hehehe… 😀

Pemandu kembali memberikan tanda kepada kami agar naik ke kapal. Dia memberitahukan bahwa kami akan menepi di Gili Meno untuk makan siang. Perut saya memang sudah keroncongan dan ini adalah waktu yang tepat untuk mengisi kembali tenaga yang hilang setelah berenang seharian. Kami dibawa ke sebuah restauran yang tidak jauh dari pantai. Suasana Gili Meno lebih sepi dibandingkan Gili Trawangan. Sama seperti di Gili Trawangan, kendaraan bermotor juga tidak boleh digunakan. Cidomo dan sepeda menjadi transportasi satu-satunya selain jalan kaki. Saat sedang makan siang, ada seorang penjual aksesoris dari mutiara yang menawarkan dagangannya kepada kami. Dia mengklaim bahwa mutiara yang dia jual adalah barang asli. Untuk membuat kami percaya, dia membakar mutiaranya di depan kami. Dan setahu saya memang itu lah cara yang digunakan untuk menunjukkan bahwa itu mutiara asli atau imitasi. Mutiaranya tidak terbakar, bahkan tidak hangus sama sekali. Saya akhirnya memutuskan untuk membeli mutiara tersebut sebagai oleh-oleh. Kalau kalian pintar menawar, kalian bisa mendapatkan bonus gelang seperti yang teman saya lakukan setelah membeli dua anting-anting mutiara. Sepertinya lebih tepatnya dia pintar memaksa. Hehe.. ^_^V

Berlabuh di Gili Meno untuk makan siang

Selesai makan siang, kami kembali naik ke kapal untuk menuju spot snorkeling terakhir, Gili Air. Di perjalanan, pemandu kami memberitahu kalau di Gili Air kita bisa melihat penyu yang sedang berenang. Syaratnya hanya satu, keberuntungan. Dia hanya memberitahu kami posisi di mana penyu biasa terlihat. Orang-orang beramai-ramai berenang menuju tempat yang ditunjuk pemandu kami. Saya sedikit ragu dengan cerita pemandu kami walau pun sebenarnya ingin melihat penyu berenang di laut lepas. Apalagi setelah melihat banyak orang yang kecewa tidak menemui penyu yang dimaksud. Namun ternyata keberuntungan berada di pihak saya. Saat saya sedang berenang melihat terumbu karang dan ikan-ikan di sini, saya melihat penampakan penyu yang sedang berenang di permukaan. Karena penasaran, saya pun mengejarnya dan ternyata itu memang penyu. Selain saya, ada dua orang asing yang juga membuntuti penyu tersebut sambil mengabadikan momen tersebut dengan kamera go pro mereka. Ah, saya mengutuki diri sendiri yang tidak mempunyai kamera tahan air. Tak terasa saya semakin menjauhi perahu saya karena saking asyiknya melihat penyu. Alhasil saya harus berenang cukup jauh untuk kembali ke kapal. Untungnya perut saya sudah terisi sebelumnya, jadi saya masih punya tenaga untuk berenang.

Dari ketiga tempat snorkeling, saya paling terpesona dengan kondisi bawah laut di Gili Air dan memang banyak orang yang sepakat dengan pendapat saya. Air lautnya paling bersih dan jernih. Terumbu karang yang hidup di sana pun juga lebih banyak dan lebih indah. Hal ini membuat ikan-ikan di sini lebih beranekaragam. Selain itu, terdapat palung laut dangkal yang memanjang dan di sekitarnya tersebar berbagai macam terumbu karang dengan berbagai warna. Pembiasan cahaya matahari oleh air laut membuat pemandangan bawah laut tampak semakin elok dan berwarna. Hanya saja kita harus hati-hati karena arus laut di Gili Air lebih kencang dibandingkan di Gili Meno dan Gili Trawangan.

Waktu memang selalu berlalu dengan sangat cepat terlebih ketika kita sedang bergembira seakan iri karena kita sering melupakannya ketika sedang bersenang-senang. Matahari sudah mulai condong ke barat dan air laut sudah mulai menjadi dingin, saat itu lah pemandu memanggil kami, mengisyaratkan untuk kembali ke kapal dan menuju Gili Trawangan. Kami menurut saja daripada ditinggal dan harus berenang sendiri menuju Gili Trawangan. Toh memang waktunya sudah selesai. Saya sendiri sudah puas snorkeling di ketiga tempat tersebut sampai saya tidak sadar kalau punggung saya perih terbakar matahari. Hanya satu yang saya sesalkan, saya tidak mempunyai kamera tahan air untuk mengabadikan pemandangan bawah laut di ketiga gili ini. Sekarang nabung dulu untuk beli go pro yang baru biar nanti bisa narsis di dalam air. Hehehe.. 😀

Gili Air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *