Dimensi Lain di Hutan Bakau Bali

Pintu masuk menuju dimensi lain

Ada kalanya saya bosan main ke pantai di Bali dan ingin mencari suasana baru. Tinggal di Bali selama satu tahun membuat saya terbiasa dengan aroma pantai karena memang lokasi tempat tinggal dan tempat kerja yang tidak jauh dari pantai. Bahkan dari tempat saya bekerja saja saya bisa dengan jelas melihat gemuruh ombak dalam balutan warna biru berpadu dengan warna hijau daun padi yang tumbuh subur di sawah yang berbatasan langsung. Hampir setiap hari saya bisa merasakan hembusan angin bercampur garam yang kadang terasa asin saat masuk ke dalam mulut dan sering kali membuat kulit terasa lengket.

Sebuah plang memikat perhatian saya ketika sedang mengendarai motor dari Sanur menuju Kuta. Rencana untuk melihat sunset di Kuta tiba-tiba buyar. Rencana itu kalah dengan rasa penasaran saya dengan apa yang tertera di plang di pinggir jalan tersebut. Sebuah gambar hutan mangrove atau bakau menjadi latar belakang plang tersebut. Seingat saya, belum pernah sekali pun saya menjejakkan kaki di hutan mangrove, kalau hutan jati atau hutan karet saya sudah terbiasa. Tanpa pikir panjang dan didorong oleh rasa penasaran yang semakin besar, saya mengubah haluan, menuju hutan bakau.

Pohon bakau memayungi perjalanan sepanjang jembatan kayu

Saya seolah memasuki dimensi lain. Bising suara kendaraan yang sebelumnya memekakkan telinga seolah teredam oleh pohon bakau yang tumbuh di kanan dan kiri saya. Hawa panas pulau Bali yang kadang terasa menyilet kulit seolah tertahan oleh rindangnya pepohonan mangrove. Daun-daun mangrove tampaknya saling bekerja sama menciptakan sebuah benteng pelindung tak terlihat untuk menghalau aroma knalpot bercampur debu yang beterbangan di sepanjang Jalan By Pass Ngurah Rai. Saya mengendarai motor dengan pelan sembari menikmati suasana yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Di sepanjang jalan beberapa kali saya menjumpai biawak yang melintas di depan saya tanpa takut mereka akan terlindas. Mereka berjalan dengan pelan tampak pongah memberitahu bahwa mereka lah penguasa daerah itu, kalian manusia hanya lah pendatang yang harus menghormati kami penghuni asli hutan bakau ini.

Perjalanan saya terhenti di depan gapura besar sekitar 200 meter dari jalan by pass. Hanya ada satu orang yang berjaga di pintu masuk sebelum berpetualang di hutan bakau yang lebih dalam. Harga tiket masuknya pun murah meriah, hanya lima ribu rupiah.Jalan yang tadi saya lewati tak lebih dari sebuah halaman depannya saja. Pengunjung harus berjalan kaki untuk memasuki hutan karena memang tak mungkin memasuki hutan bakau dengan mengendarai sepeda motor.

Jembatan kayu yang menjadi jalan utama di hutan bakau

Saya berpikir saya akan berjalan di genangan air dan lumpur saat menjelajah hutan bakau. Saya pikir jaket putih yang saya kenakan itu akan berubah berwarna menjadi coklat tua ketika saya pulang. Nyatanya pikiran saya salah. Penjelajahan hutan mangrove ini jauh dari kesan kotor. Sebuah jalan sudah dipersiapkan pihak Mangrove Information Centre (MIC) selaku penjaga dan pengelola hutan untuk mempermudah pengunjung mengeksplorasi hutan bakau yang mempunyai luas 100 Ha ini. Jembatan dari kayu sepanjang 2 km membentang dengan rapi sebagai jalan utama. Kayu-kayu itu memang tampak kusam dan tua, tapi masih terlihat kokoh berdiri. Di beberapa bagian tidak terdapat pegangan tangan di kanan kiri, jadi pengunjung harus hati-hati kalau tidak mau terjatuh ke dalam air.

Hati-hati saat berjalan karena tidak ada penghalang di kanan dan kiri

Di depan saya terdapat sebuah lubang yang merupakan jalan masuk seperti gua. Hanya saja gua itu bukan dari batu, tapi dari ranting-ranting pohon bakau yang saling berkaitan dan meninggalkan sebentuk lubang untuk dilewati. Saya semakin yakin sedang berada di dunia lain. Dunia dengan pohon-pohon bakau yang mendominasi, berbeda dengan pohon-pohon beton yang biasa saya jumpai. Saya pikir saya tidak akan bertemu banyak orang, tapi nyatanya banyak orang yang terlihat asyik memancing ikan payau. Di sudut lain saya bertemu dengan sekumpulan orang yang terlihat sibuk mengambil foto prewed. Saking fokusnya, mereka bahkan tidak menghiraukan orang yang akan lewat.

Pemandangan hutan bakau dari gardu pandang

Banyak pos-pos yang saya jumpai selama menyusuri jembatan kayu ini. Pos-pos tersebut dimaksudkan untuk pengunjung yang ingin beristirahat sembari menikmati pemandangan hutan bakau. Tak hanya pepohonan yang saya jumpai. Kondisi hutan yang masih terawat ini menjadi sebuah tempat tinggal untuk berbagai binatang yang ingin jauh dari kebisingan akibat ulah manusia. Di sini mereka bisa bebas menghirup udara bersih yang tak bercampur knalpot. Di sini mereka bebas bernyanyi tanpa takut kalah dengan lengkingan dan deru mesin-mesin kendaraan. Di sini mereka bisa hidup dengan tenang. Tak hanya burung, saya melihat beberapa ikan yang tampak bebas berenang di air payau, campuran antara air tawar dengan air laut. Kepiting berwarna biru dengan sebuah capit besar dan capit kecil di sisi lainnya juga banyak hidup di sini. Baru pertama kali saya melihatnya. Tampaknya mereka adalah tipe kepiting pemalu karena sering bersembunyi di sarangnya daripada memamerkan warna tubuhnya yang biru mengkilat.

Air yang jernih seperti cermin

Semakin jauh ke dalam, keadaan semakin hening. Jembatannya pun tidak sebagus di awal perjalanan. Banyak kayu-kayu yang sudah hilang. Entah terbawa arus pasang atau memang rusak termakan usia. Saya harus hati-hati saat melangkah kalau tidak mau terjerembab. Jembatan kayu ini membawa saya ke sebuah pos yang cukup besar sebagai titik akhir perjalanan. Pos kayu ini lebih besar dari pos-pos yang saya temui sebelumnya. Hanya ada beberapa orang yang saya temui di sana. Di depan saya terbentang laut biru yang jernih seperti cermin merefleksikan langit yang juga berwarna biru. Ada beberapa perahu kayu yang bersandar di dekat pos beristirahat setelah digunakan untuk memancing di tengah laut. Di batas horison terdapat sebuah jalan tol yang memanjang. Itu adalah jalan tol pertama di Indonesia yang dibangun di atas laut. Angin laut berhembus lembut membius, melupakan kelelahan setelah perjalanan panjang. Saya memutuskan untuk mengistirahatkan kaki-kaki yang sudah lelah sambil menunggu keringat menguap dari pori-pori kulit.

Tol laut Bali membentang di horison

Matahari mulai condong ke barat saat saya akhirnya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman di pondok itu. Keinginan untuk melihat sunset yang tadi sudah hilang kembali lagi manakala saya melihat sebuah tower dari kayu di persimpangan jembatan. Tower kayu itu digunakan sebagai gardu pandang untuk melihat hutan bakau dari atas. Saya menaiki tower tersebut untuk mendapat pemandangan yang berbeda. Warna hijau daun dan kuning akibat membiaskan cahaya mentari terhampar di depan saya, berpadu padan dengan warna langit yang akan berubah menjadi senja sebentar lagi. Di situ lah titik akhir perjalanan saya sembari menikmati senja.

Sunset di balik hutan bakau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *